Perang Makin Meluas, Houthi Luncurkan Rudal, Sirine Israel Selatan Meraung

  • Bagikan
GABUNG IRAN: Pasukan Houthi Yaman mulai menyerang Israel Selatan sekaligus memberi pesan siap berperang membela Iran jik negara di kawasan ikut di tempati Pangkalan AS ikut menyerang Iran. (foto: Reuters)

INDOSatu.co – SANAA – Konflik Timur Tengah yang melibatkan perang Iran vs AS dan Israel dipastikan bakal lebih panjang. Yang bikin miris, beberapa negara dan kelompok di kawasan Timur Tengah sudah mulai terang-terangan akan ikut terlibat dalam perang yang lebih luas.

Kabar terkini, Tentara Israel (IDF), mengumumkan bahwa mereka mendeteksi rudal diluncurkan dari arah Yaman menuju kawasan Negev, wilayah Israel. Menurut laporan kantor berita RT, ini sebagai pertanda kelompok militan Houthi untuk kali pertama akan bergabung dengan Iran dan Hizbullah ke gelanggang perang.

Keterlibatan dan peluncuran rudal dari Houthi membuat Israel War Room juga mengonfirmasi suara sirene di selatan Israel meraung akibat serangan rudal dari Yaman yang tidak terjadi sebelumnya. Houthi harus turun tangan membela Iran melihat ketidakadilan dalam perang yang sudah berlangsung selama tiga pekan tersebut.

Baca juga :   Hasil Pilpres Kamerun Dicurangi, Dewan Konstitusi Menangkan Paul Biya

Juru bicara kelompok Ansharallah Houthi di Yaman, Yahya Saree, mengatakan bahwa kelompok tersebut siap ikut bertempur membantu sekutunya Iran jika sejumlah kondisi terpenuhi. Salah satu kondisinya adalah jika ada negara baru selain AS-Israel ikut secara langsung menyerang Iran.

Pada Jumat, Saree melansir pernyataan bahwa Houthi akan berpartisipasi dalam intervensi militer jika ada negara baru yang bergabung dengan AS dan Israel dalam perang melawan Iran.

Sejauh ini serangan ke Iran dilakukan oleh AS dan Israel meski difasilitasi pangkalan militer di negara-negara Teluk. Meski begitu seturut serangan balasan Iran ke pangkalan itu, sejumlah negara Teluk mulai menimbang ikut menyerang Iran.

Baca juga :   Bisnis Anak dalam Sorotan, Joe Biden Berpotensi Dimakzulkan, DPR Setuju Diselidiki

Kondisi kedua bagi Houthi untuk ikut perang bersama Iran AS adalah jika Laut Merah digunakan untuk menargetkan Iran atau negara Muslim mana pun.

Pada Oktober 2023, Houthi memblokade Laut Merah ketika Israel menggencarkan genosidanya di Gaza. Kapal-kapal menuju Israel dihantam rudal Houthi, membuat pelabuhan-pelabuhan di Israel bangkrut. Blokade itu juga membuat kapal-kapal memutar jauh dan mahal melalui Afrika untuk mencapai Eropa dari Asia.

AS kemudian memimpin koalisi patroli di Laut Merah dan berulang kali menyerang Yaman. Setelah kerugian besar dalam aksi tersebut, termasuk jatuhnya tiga jet tempur F-16, AS menyetujui gencatan senjata dengan Houthi pada 2025.

Houthi juga akan turun tangan dalam perang terkini Jika perang terus meningkat melawan Iran dan poros perlawanan. Pada poin terakhir, Houthi memperingatkan terhadap tindakan tidak adil apa pun yang bertujuan memperketat pengepungan terhadap rakyat Yaman.

Baca juga :   Ahmad Basarah Puji Pidato Bung Karno, Dunia Akui Pancasila sebagai Ideologi Internasional!

Dalam pernyataannya, Saree juga menyerukan AS dan Israel untuk menanggapi upaya diplomatik internasional untuk menghentikan perang dengan Iran dan “negara-negara Poros Perlawanan”, termasuk Lebanon.

“Agresi ini tidak adil, menindas, dan tidak beralasan, merugikan stabilitas dan keamanan global dan regional, serta merusak perekonomian global,” ujarnya dikutip dari Al Jazeera, Jumat (27/3).

Poin kedua yang dia sebutkan adalah penghentian agresi di Palestina, Lebanon, Irak, Iran dan pencabutan “blokade tidak adil terhadap Yaman.” Ketiga, penerapan “gencatan senjata” di Gaza dan pemenuhan kewajiban terkait pengiriman kemanusiaan dan hak-hak sah warga Palestina. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *