INDOSatu.co – JAKARTA – Capaian cadangan beras nasional yang kini menembus lebih dari 5 juta ton dinilai menjadi penanda penting bahwa Indonesia mulai memasuki fase baru menuju swasembada pangan yang lebih nyata dan terukur. Hal itu juga menjadi bukti bahwa negara serius mengurus sektor pangan.
Pernyataan tersebut disampaikan anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti. Kata Aziz, capaian tersebut bukan sekadar angka statistik, melainkan mencerminkan kemampuan negara dalam membangun ketahanan pangan nasional berbasis produksi dalam negeri.
“Jadi, ada kegelisahan yang dulu sering muncul setiap kali bangsa ini berbicara soal beras,” kata dia dalam keterangannya di Jakarta, Ahad (10/5).
Bukan karena Indonesia tidak memiliki sawah atau petani tidak bekerja keras, tetapi karena negara sering datang terlambat dalam memastikan hasil panen benar-benar memberi manfaat bagi petani.
Dia mengatakan, selama bertahun-tahun masyarakat kerap mendengar istilah “stok aman”, tetapi kondisi itu belum tentu dirasakan langsung oleh rakyat, terutama dalam menjaga stabilitas harga di tingkat pasar.
Namun, menurut dia, situasi saat ini mulai menunjukkan perubahan yang lebih konkret.“Untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup panjang, kalimat stok aman mulai menemukan bentuk yang lebih jujur. Bukan sekadar angka, tetapi angka yang memiliki makna,” ujarnya.
Azis menjelaskan, cadangan beras nasional yang dikelola Perum Bulog kini telah melampaui 5 juta ton. Dalam dua tahun terakhir, jumlah tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat.
Pada saat yang sama, penyerapan gabah dan beras petani dalam negeri hingga April 2026 telah mencapai sekitar 2,3 juta ton setara beras. Produksi nasional juga meningkat menjadi sekitar 34,69 juta ton pada 2025 atau naik lebih dari 13 persen dibanding tahun sebelumnya.
“Angka-angka ini penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana membacanya,” kata dia mengingatkan.
Dia menyebut fakta di lapangan menunjukkan stok itu benar-benar ada. Gudang-gudang Bulog di berbagai daerah terisi, distribusi berjalan, dan penyerapan berlangsung,” katanya.
Azis mengungkapkan, dari hasil peninjauan Anggota DPR RI Fraksi Gerindra ke berbagai gudang Bulog di sejumlah wilayah Indonesia, terlihat pola yang relatif sama, yakni ketersediaan stok yang aman untuk enam hingga sepuluh bulan ke depan, kapasitas gudang yang hampir penuh, hingga kebutuhan tambahan ruang penyimpanan.
Wilayah tersebut meliputi Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Khusus Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Lampung, Jambi, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Aceh, Sumatera Barat, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan hingga Papua.
Menurut dia, yang paling penting bukan hanya soal kecukupan stok, melainkan fakta bahwa mayoritas cadangan beras tersebut berasal dari hasil serapan produksi petani dalam negeri.
“Ini menandai pergeseran nyata menuju kemandirian pangan. Bukan sekadar klaim, tetapi kenyataan yang mulai terbentuk di lapangan,” ujarnya.
Azis menilai selama ini Indonesia terlalu sering terjebak dalam ironi sebagai negara agraris yang tetap bergantung pada impor ketika harga mulai bergejolak.
Kini, lanjut dia, petani mulai memperoleh kepastian harga melalui kebijakan pemerintah. Harga pembelian gabah sebesar Rp 6.500 per kilogram disebut menjadi sinyal kuat bahwa negara hadir menjaga keberlanjutan produksi nasional. (*)



