INDOSatu.co – JAKARTA – Lambannya pengungkapan penyebab kecelakaan kereta antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur menuai kritik tajam dari kalangan wakil rakyat di Parlemen. Kritik tersebut disampaikan Anggota Komisi V DPR RI, Mori Hanafi.
Insiden tersebut menewaskan 16 orang dan menyebabkan puluhan penumpang mengalami luka-luka. Sebagian besar korban berada di gerbong belakang KRL yang mengalami kerusakan parah akibat tabrakan.
Menurut Mori, kasus tersebut seharusnya sudah dapat disimpulkan penyebabnya karena dinilai bukan kecelakaan yang rumit untuk diinvestigasi. Ia mempertanyakan alasan pemerintah yang menyebut proses penyelidikan masih berjalan.
“Saya yakin kalau saya tanya sama Kepala Basarnas sekarang sudah tahu (penyebab kecelakannya). Itu ada Kepala KNKT-nya sudah tahu tuh apa sebabnya. Ini kalau alasan yang disampaikan adalah alasan karena masih dalam proses penyidikan, buat saya secara penyidikan, ini nggak masuk akal, Pak,” tegas Mori dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, Jumat (15/5).
Legislator Fraksi Partai NasDem itu menilai, lambannya penyampaian hasil investigasi justru menimbulkan ketidakjelasan di tengah masyarakat terkait evaluasi keselamatan transportasi nasional.
“Kecelakaan kereta di Bekasi itu nggak pelik. Sederhana itu, Pak. Kok bapak-bapak bisa mengatakan, belum bisa menyimpulkan apa sebabnya? Udah berapa lama itu, Pak? Jadi di sisi lain tiba-tiba alasan kesehatan. Ini mana yang tepat alasan ini, Pak,” ujarnya.
Selain menyoroti kecelakaan kereta di Bekasi, Mori juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap rentetan kecelakaan transportasi lain yang terjadi dalam waktu berdekatan, termasuk kecelakaan bus ALS yang menewaskan 16 orang.
“Saya terus terang kecewa. Ini yang punya, ini kan Menteri Perhubungan. Apalagi persoalannya kemudian, kalau nggak salah seminggu selain itu ada kecelakaan lagi tuh. Kereta lagi. Jadi kita belum bicara tabrakan bus ALS 16 orang meninggal,” kata dia.
Mori menegaskan pemerintah harus segera memperkuat pengawasan dan evaluasi keselamatan transportasi, sekaligus memastikan investigasi setiap kecelakaan dilakukan secara transparan agar tragedi serupa tidak kembali terulang. (*)



