INDOSatu.co – TEHERAN – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Teheran mengonfirmasi bahwa mereka siap menanggapi agresi apa pun setelah Presiden AS Donald Trump menilai gencatan senjata sangat rapuh, bahkan dalam kondisi kritis.
Pada hari Senin, Trump menolak tanggapan terbaru Iran terhadap proposal perdamaian yang diajukan Teheran. Bahkan, Trump menyebutnya dengan kata bodoh. Iran tetap pada pendirian, tidak mau ditekan dan harus posisi sejajar dalam merealisasikan misi perdamaian.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan, pasukan Iran siap membalas jika diserang oleh Amerika Serikat. Bahkan, Ghalibaf memperingatkan AS akan “terkejut” dengan tanggapan Iran yang tidak dilihat AS sebelumnya.
Perdebatan sengit telah memperdalam ketidakpastian seputar upaya untuk mencapai terobosan diplomatik guna mengakhiri perang yang telah memicu krisis energi global. Terlepas dari kebuntuan tersebut, Trump terus bersikeras bahwa solusi melalui negosiasi masih mungkin dilakukan.
Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan, Iran menyerukan diakhirinya konflik dan pembebasan aset-asetnya yang dibekukan sebagai tanggapan terhadap proposal perdamaian terbaru AS, dan menegaskan bahwa mereka hanya memperjuangkan “hak-hak sahnya”.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei pada hari Senin menggambarkan tanggapan Iran sebagai usulan yang “murah hati dan bertanggung jawab.” Baghaei mengatakan, Iran menuntut diakhirinya perang dan apa yang disebutnya sebagai pembajakan maritim terhadap kapal-kapal Iran.
Baghaei menegaskan bahwa fase negosiasi saat ini harus berfokus terutama untuk mengakhiri perang dan memulihkan stabilitas regional, bukan membahas masalah nuklir.
Teheran sendiri menuduh Washington mengajukan tuntutan yang tidak masuk akal. Tuntutan berlebihan yang dimaksud adalah mencegah Iran memperoleh dan memiliki senjata nuklir.
Dasar pemikiran pejabat Iran sederhana, kalau Amerika dan Israel boleh memiliki nuklir, mengapa Iran tidak boleh. ”Itu mencampuri dan mengganggu kedaulatan negara lain,” kata Baghaei.
Iran juga menuntut jaminan terhadap serangan militer di masa mendatang, pemulihan transit maritim yang aman di Selat Hormuz, pencabutan sanksi terhadap ekspor minyak Iran dalam waktu 30 hari, dan pembebasan aset Iran yang dibekukan.
”Iran telah berulang kali menekankan bahwa tidak akan ada negosiasi mengenai isu nuklir sebelum perang berakhir secara definitif,” kata Baghaei.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump langsung memberi reaksi cepat setelah laporan tentang proposal revisi Teheran muncul. “Saya baru saja membaca apa yang disebut tanggapan Iran. Saya sama sekali tidak menyukainya. Sama sekali tidak dapat diterima,” tulis Trump di Truth Social.
Dilansir Al Jazeera, saat berbicara kepada wartawan di Ruang Oval, Trump juga mengatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi yang sangat kritis.
“Saya akan menyebutnya yang terlemah saat ini, setelah membaca artikel sampah itu,” kata Trump yang terlihat frustasi setelah merujuk tanggapan Iran.
Menurut media Iran, Teheran sedang menunggu tanggapan resmi melalui mediator Pakistan daripada menanggapi komentar publik atau unggahan di media sosial. (*)



