Diultimatum Iran Lakukan Balasan, Presiden Trump akhirnya Ciut Nyali

  • Bagikan
HENTIKAN SERANGAN: Presiden AS Donald Trump dan pangeran Mohamed bin Salman (MBS) bertemu untuk membahas perkembangan Timur Tengah belakangan ini.

INDOSatu.co – TEHERAN – Akhirnya terungkap mengapa Amerika Serikat (AS) menghentikan serangan terhadap Iran. Hal itu terjadi karena AS cuit nyali setelah diancam dengan membumihanguskan infrastruktur strategis AS di seluruh wilayah Teluk.

Pimpinan negara-negara Teluk dilaporkan meminta Presiden Donald Trump menghentikan agar serangan terhadap Iran. Mereka khawatir negara mereka hancur karena digempur rudal Iran. Diultimatum pimpinan beberapa negara Timur Tengah seperti itu, Trump ciut nyali dan memilih menghentikan serangan karena khawatir dengan balasan Iran.

Ancaman itu disampaikan Iran melalui jalur diplomatik menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump pada 28 Juli lalu yang mengancam akan menyerang jaringan energi dan infrastruktur Iran apabila negosiasi kembali menemui jalan buntu.

Baca juga :   Respon Janji Trump, Kremlin Ingin Tahu Senjata AS Apa yang Dikirim ke Ukraina

Merujuk beberapa sejumlah sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut melansir  Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi melakukan komunikasi intensif dengan para menteri luar negeri Arab Saudi, Qatar, dan Turki, serta Panglima Angkatan Darat Pakistan.

Dalam pembicaraan itu, Araqchi meminta negara-negara yang memiliki hubungan dekat dengan Washington menggunakan pengaruh mereka untuk membujuk Trump agar tidak kembali memilih opsi militer.

Seorang diplomat senior kawasan mengatakan, Araqchi menegaskan Iran siap memberikan balasan apabila kembali menjadi sasaran serangan. Namun, ia juga menekankan bahwa penyelesaian diplomatik tetap menjadi pilihan terbaik untuk mencegah konflik yang lebih luas.

Baca juga :   Otoritas Iran Umumkan Badan Baru untuk Kelola Selat Hormuz

“Pesan Iran dalam setiap pembicaraan sama. Kami siap membalas, tetapi solusi diplomatik adalah cara terbaik untuk menghindari eskalasi dan kehancuran yang lebih besar di kawasan,” kata diplomat dilansir Al Jazeera, Jumat (7/8).

Sumber dari negara Teluk juga menyebut peringatan Iran disampaikan tanpa keraguan. Jika AS menyerang infrastruktur Iran, Teheran akan menyerang fasilitas energi negara-negara Teluk serta berbagai aset yang berkaitan dengan kepentingan AS di kawasan.

Ancaman tersebut menunjukkan strategi baru Iran untuk meningkatkan tekanan terhadap Washington. Dengan menjadikan infrastruktur energi sebagai sasaran potensial, Teheran berharap negara-negara Teluk yang selama ini menjadi mitra dekat AS ikut mendesak Washington menghindari aksi militer.

Baca juga :   Setelah Venezuela, Presiden Trump: Militer AS "Membidik" Iran

Posisi negara-negara Teluk memang tidak mudah. Selain menjadi lokasi pangkalan militer AS, sebagian besar perekonomian mereka juga bergantung pada ekspor minyak dan gas.

Setelah peringatan Iran disampaikan, Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman dilaporkan berbicara langsung dengan Trump. Menurut sejumlah sumber, pemimpin de facto Arab Saudi itu meminta AS menunda rencana serangan, kembali ke meja perundingan, mengupayakan gencatan senjata, dan mencari penyelesaian melalui diplomasi. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *