INDOSatu.co – TEHERAN – Prinsip dasarnya adalah ketidakpercayaan terhadap Amerika. Itulah kesimpulan anggota parlemen senior Iran, Abbas Moghtadaei menggambarkan situasi penyerangan yang dilakukan Amerika Serikat di Hormozgan, wilayah Iran selatan di tengah gencatan senjata yang telah disepakati.
Hal itu pula yang memicu delegasi Iran, yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, kembali ke Teheran dari Qatar di tengah upaya untuk mencapai kesepahaman dengan Amerika Serikat tentang mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir tiga bulan di negara tersebut.
Beberapa jam sebelumnya, Kementerian Luar Negeri menuduh Washington melakukan “pelanggaran terang-terangan” terhadap gencatan senjata yang disepakati pada 8 April dengan menyerang provinsi selatan Hormozgan pada Senin malam. Dengan serangan tersebut, hal itu sekaligus memvalidasi kecurigaan mendalam yang dimiliki Iran terhadap AS.
Militer AS mengatakan, mereka menyerang lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal Iran yang mencoba memasang ranjau laut sebagai langkah “pertahanan”, tetapi komandan IRGC mengatakan mereka melakukan pembalasan karena diserang militer AS terlebih dahulu.
Para politisi Iran, mulai yang paling moderat di pemerintahan hingga faksi militer-keamanan yang paling garis keras, semuanya telah berjanji bahwa Republik Islam tidak akan dengan mudah menyetujui kesepakatan apapun dengan negara agresor Amerika Serikat. ”Dan sampai kapan pun, Iran akan tidak akan pernah menyerah,” tutur mereka.
Sedangkan Majid Mousavi, komandan penerbangan IRGC yang berpengaruh, dalam sebuah unggahan di X, mengatakan, pihaknya justru merujuk mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. “Seperti yang dikatakan imam kita yang telah gugur, bernegosiasi dengan musuh adalah kerugian yang paling nyata,” kata Muosavi menirukan Ali Khamenei.
Amerika itu, kata Khamenei, tidak akan pernah ada puasnya. Sudah dipenuhi keinginan mereka, pasti akan meminta yang lain, kalau perlu dengan jalan konfrontasi maupun kekuatan militer. Iran sudah paham dengan cara-cara culas Amerika tersebut. Karena itu, ketika mereka melancarkan serangan, Iran sudah siap meladeni. ”Dan Iran juga yang muncul sebagai pemenang,” kata Mousavi singkat.
Mousavi mengaku akan mengikuti perintah pemimpin tertinggi baru Itan, putra Khamenei, Mojtaba, yang dalam sebuah pesan untuk menandai festival Muslim Idul Adha pada hari Selasa, mengatakan bahwa “bangsa dan wilayah di kawasan ini tidak akan lagi menjadi tameng pangkalan Amerika”. Dia juga meramalkan bahwa Israel tidak akan ada lagi ada dalam 15 tahun ke depan, seperti yang diramalkan oleh ayahnya yang terbunuh.
Sementara Ali Abdollahi, komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya dan tokoh terkemuka dalam perang tersebut, tampil di depan publik untuk pertama kalinya pada hari Senin untuk mendesak angkatan bersenjata Iran agar menjadikan kekalahan Amerika Serikat sebagai prioritas.
“Amerika terlalu banyak bicara dan terus mengubah cerita mereka dalam sekejap. Kami telah berkali-kali mengatakan bahwa kami akan menunjukkan di medan perang apa yang mampu kami lakukan,” katanya kepada televisi pemerintah di sela-sela upacara di Teheran untuk memperingati para pemimpin Iran yang tewas selama perang.
Dalam pesan publik pertamanya sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, yang dirilis pada hari Senin, Mohammad Bagher Zolghadr, yang juga seorang jenderal IRGC berpangkat tinggi, berjanji, bahwa Iran tidak akan ada mundur melawan Amerika Serikat.
Komandan IRGC Ahmad Vahidi juga menyatakan siap melanjutkan konfrontasi militer dengan AS. Iran menargetkan Amerika harus kaki dari kawasan Timur Tengah karena keberadaannya hanya menciptakan instabilitas kawasan belaka. (*)



