Kembali Berkhianat, Amerika Serang Iran Selatan di Tengah Gencatan Senjata

  • Bagikan
PERDAMAIAN SEMU: Penampakan kepulan asap membumbung ke udara akibat serangan Amerika Serikat di wilayah Iran Selatan ditengah upaya damai yang dikhianati Amerika Serikat sendiri. (foto: Al Jazeera)

INDOSatu.co – TEHERAN – Ketidakpercayaan Iran terhadap Amerika Serikat, terutama Presiden Donald Trump bisa dimaklumi. Sebab, selain berkali-kali telah berkhianat, Iran juga memiliki pengalaman dikhianati Amerika. Karena itu, tak heran jika ajakan gencatan senjata Amerika hanya bualan Trump belaka, karena Amerika setengah hati untuk berdamai.

Kabar terkini, perang Amerika Serikat-Israel vs Iran kembali meletus. Militer AS terkonfirmasi telah melancarkan serangan terhadap target-target di wilayah Iran selatan, ditengah upaya negoisasi perdamaian untuk menghentikan perang.

Dilansir Al Jazeera, saat ini para negosiator utama Teheran justru berkumpul di Qatar untuk melakukan pembicaraan yang bertujuan mencapai kesepakatan perdamaian dengan Washington tetapi lagi-lagi dikhianati.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengaku pihaknya melakukan serangan bela diri untuk melindungi pasukan AS dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Pasukan Iran justru menjaga kedaulatan wilayahnya dari agresor Amerika Serikat yang ngleuruk ke Iran.  

Baca juga :   Sesi Ketiga KTT G20, Presiden Jokowi: Transformasi Digital Percepat Pemulihan Global

“Targetnya termasuk lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal Iran yang mencoba memasang ranjau,” kata Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, juru bicara CENTCOM, dalam sebuah pernyataan kepada Al Jazeera pada Senin (25/5) malam.

“Komando Pusat AS terus membela pasukan kami sambil menahan diri selama gencatan senjata yang sedang berlangsung.”

Dengan serangan tersebut, gencatan senjata yang telah dikampanyekan Amerika  dan Donald Trump tentu menjadi rapuh dan tidak bermakna. Washington kembali mengkhianati janjinya sendiri untuk berdamai dan mengakhiri perang dengan Iran.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, belum terwujudnya perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat (AS) karena banyak hal melingkupinya. Salah satunya adalah ketidakpercayaan Iran pada Amerika Serikat, terutama Presiden Donald Trump.

Baca juga :   World Peace Forum 8 Resmi Dibuka, Haedar Berharap Dapat Lahirkan Perdamaian dan Persaudaraan

”Iran serius berdamai dengan sesuangguhnya perdamaian. Hentikan serangan, dan berunding bisa dilakukan tanpa adanya tekanan dan harus berdiri pada posisi sejajar,” kata Araghchi dilansir AFP pada 17 Mei 2026 lalu..

Karena itu, lanjut Araghchi, bahwa kurangnya kepercayaan Iran terhadap AS adalah hambatan terbesar dalam mengakhiri perang. Sebab, kata Menlu, sudah sering kali Amerika melanggar perjanjian damai yang sudah disepakati, termasuk dengan saksi banyak negara.

Dibagian lain, Araghchi mengingatkan kepada Donald Trump agar tidak mengumbar amarah yang berujuk pada kecaman dunia terhadap Amerika dan Donald Trump sebagai presiden.

“Mengulangi kesalahan apa pun untuk menutupi aib Amerika dalam Perang Ketiga yang dipaksakan terhadap Iran, tidak akan menghasilkan apa pun selain menerima pukulan yang lebih menghancurkan dan parah. Dan Iran sanggup menghadapi model perang dari Amerika. Baik perang darat, laut dan udara. Iran tak gentar sedikit pun,” kata Araghchi.

Baca juga :   Samia Hassan Menangi Pilpres; 700 Pendemo Tanzania Tewas

Rasa sedih bangsa Iran akan selalu diingat dengan meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran Sayyid Ali Khamenei akibat serangan udara yang dilakukan AS dan Israel pada 28 Februari 2026 lalu.

”Moment meninggalnya Pemimpin Tertinggi itulah yang membuat kami bersedih, tetapi sekaligus menyatukan rakyat Iran untuk melayani perang melawan Amerika dan Israel sampai titik darah penghabisan. Iran sudah siap segalanya,” pungkas Araghchi.

Hingga kini belum ada respon dari para petinggi Iran terkait serangan militer AS di Iran Selatan tersebut. Akan tetapi, dalam berbagai kesempatan, para pejabat Iran sanggup menghadapi perang dengan Amerika dalam tempo yang panjang. Bahkan, Iran mengklaim kekuatan militer Iran jauh lebih kuat dibanding sebelum perang pada 28 Februari 2026 lalu. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *