DALAM sejarah republik, ada tokoh-tokoh yang meninggalkan gedung kekuasaan dengan harta melimpah. Tetapi ada pula yang meninggalkan jabatan dengan tangan bersih, hidup sederhana, bahkan getir, namun namanya tetap harum sebagai teladan moral bangsa.
Kasman Singodimedjo termasuk dalam jenis kedua. Ia bukan orang kecil dalam sejarah Indonesia. Kasman lahir di Purworejo, Jawa Tengah, pada 25 Februari 1904, dan wafat di Jakarta pada 25 Oktober 1982.
Namanya tercatat sebagai tokoh Muhammadiyah, mantan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat atau KNIP, Menteri Muda Kehakiman, dan Jaksa Agung RI pada masa awal kemerdekaan.
Ia juga dikenal sebagai tokoh Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi), anggota Konstituante, serta pernah menjadi Rektor pertama Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Pada 2018, negara menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Kasman Singodimedjo.
Dengan deretan jabatan seperti itu, mudah membayangkan Kasman sebagai orang yang hidup nyaman di masa tua. Ia pernah berada di pusat kekuasaan republik. Ia mengenal para pendiri bangsa. Ia ikut berada dalam gelanggang ketika negara ini baru berdiri dan semua institusi sedang dibentuk dari nol.
Tetapi sejarah hidupnya justru bergerak ke arah sebaliknya. Setelah tak lagi memegang jabatan, Kasman tidak menikmati kemewahan. Tidak ada rumah megah sebagai tanda pernah berkuasa.
Tidak ada kendaraan mewah sebagai simbol kehormatan. Tidak ada cerita tentang rekening besar yang disiapkan untuk “masa depan keluarga”. Yang ada adalah kehidupan sederhana, bahkan dalam banyak kisah disebut keras dan memprihatinkan.
Untuk menyambung hidup, Kasman pernah menjajakan es lilin. Ia juga dikisahkan pernah bekerja sebagai kuli bangunan dan penjaga malam. Sulit membayangkan seorang mantan pejabat tinggi negara, mantan Jaksa Agung, mantan Ketua KNIP, harus menjalani pekerjaan kasar setelah pernah berada di lingkar kekuasaan tertinggi republik.
Namun justru di situlah kemuliaan moralnya tampak. Kasman tidak memandang jabatan sebagai jalan memperkaya diri. Baginya, kekuasaan adalah amanah. Ia bukan kesempatan untuk mengamankan harta, melainkan tanggung jawab yang kelak dipertanyakan di hadapan rakyat dan Tuhan.
Ada kisah mengharukan ketika seorang sahabat seperjuangannya melihat Kasman memanggul beban berat di pasar. Sang sahabat tak kuasa menahan kesedihan. Ia merasa tidak pantas seorang tokoh besar republik hidup seperti itu.
Tetapi Kasman menjawab dengan tenang: lebih baik hidup dalam kekurangan daripada makan dari hasil mengambil hak rakyat. Kalimat itu sederhana, tetapi tajam. Ia bukan retorika. Ia adalah kesaksian hidup.
Di tengah zaman ketika sebagian pejabat mudah tergoda oleh fasilitas, proyek, komisi, dan kekuasaan yang diperdagangkan, kisah Kasman terasa seperti cermin yang menyakitkan.
Ia mengingatkan bahwa republik ini dulu dibangun oleh orang-orang yang tidak menjadikan negara sebagai ladang pribadi. Mereka boleh miskin secara materi, tetapi kaya dalam kehormatan.
Kita boleh berbeda pandangan politik dengan Kasman. Kita boleh membaca sejarahnya dengan berbagai sudut. Tetapi integritas pribadinya sulit dibantah. Ia berdiri sebagai contoh bahwa kekuasaan tidak harus berakhir dengan kerakusan.
Jabatan tinggi tidak harus melahirkan gaya hidup tinggi. Seorang pejabat bisa turun dari kursi kekuasaan tanpa membawa apa-apa selain nama baik.
Kesimpulan
Kisah Kasman Singodimedjo bukan sekadar kisah pilu mantan pejabat yang menjual es lilin. Ia adalah pelajaran tentang integritas, amanah, dan harga diri seorang pejuang republik.
Kasman wafat tanpa warisan harta besar. Tetapi ia meninggalkan warisan yang jauh lebih mahal: teladan bahwa kemiskinan yang jujur lebih mulia daripada kemewahan yang ternoda.
Di tengah riuh korupsi dan rendahnya rasa malu dalam politik hari ini, Kasman seperti suara dari masa lampau yang bertanya kepada kita: untuk apa republik ini didirikan, jika kekuasaan hanya menjadi jalan memperkaya diri? (*)
Hasanuddin;
Penulis adalah Ketua Umum PB-HMI 2003-2005.



