INDOSatu.co – JAKARTA – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) RI Natalius Pigai buka suara terkait meninggalnya lima orang calon manajer koperasi desa/kelurahan merah putih (KDKMP) dan kampung nelayan merah putih (KNMP) ketika mereka sedang mengikuti kegiatan Latihan Dasar Militer (Latsarmil) Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia.
Merespon fenomena tersebut, Menteri Natalius Pigai mendorong Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI agar mengevaluasi Latsarmil tersebut. Ia mengaku prihatin atas atas jatuhnya korban jiwa dalam kegiatan yang diikuti warga sipil namun bernuansa kemiliteran tersebut.
“Saya juga merasa prihatin dengan kejadian ini dan kami turut berbelasungkawa. Saya sarankan sistem pendidikannya dievaluasi secara menyeluruh,” ujar Natalius Pigai kepada wartawan pada Ahad (28/6).
Natalius memandang, ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam latsarmil ini, yakni aspek pengetahuan, keterampilan, dan mental. Pigai menegaskan, ihwal penguatan mental tidak mesti melalui pelatihan bergaya militer.
“Bagian yang ketiga ini (mental) tidak harus tanamkan sistem militer, tetapi sifatnya yakni disiplin, tanggung jawab, cepat, tepat, jujur,” ujar Pigai.
Pigai juga mengingatkan, pelaksanaan latsarmil seyogiaya tak membebankan pelatihan fisik berat kepada seluruh peserta. “Harus menghindari latihan fisik yang berlebihan,” ucap dia.
Selain itu, Menteri HAM mendukung pengusutan yang mendalam guna menggali penyebab meninggalnya kelima orang tersebut yang merupakan peserta Latsarmil. Pigai mengaku, pihaknya siap menerjunkan jajarannya untuk memantau proses tersebut.
“Lima peserta yang meninggal itu perlu diselidiki secara profesional untuk penyebabnya. Saya perintahkan staf untuk lakukan pemantauan di lapangan,” ujar dia.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI menyatakan program latsarmil ini dirancang untuk membentuk “disiplin, integritas, dan jiwa korsa” para calon manajer Kopdes Merah Putih dan KNMP.
Adapun kegiatan pelatihan mencakup bangun dini hari pada pukul 03.30 WIB, kegiatan fisik, peraturan baris berbaris (PBB), hingga rencana menembak pada pekan ketiga. Kesemua itu sesungguhnya cukup jauh dari tugas manajerial sebuah koperasi. (*)



