Prabowo-Gibran Renggang, Gerindra: Jangan Bangun Narasi Provokatif

  • Bagikan
TEPIS TAK HARMONIS: Ketua DPP Gerindra Bambang Haryadi menyikapi hubungan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka yang dikabarkan renggang karena tidak lagi mendampingi Prabowo saat sidang paripirna kabinet, Senin (20/7).

INDOSatu.co – JAKARTA – Partai Gerindra akhirnya buka suara soal hubungan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang diisukan renggang. Partai berlambang kepala Garuda itu memastikan hubungan Presiden Prabowo Wapres Gibran tetap harmonis dan kompak dalam menjalankan roda pemerintahan.

Gerindra pun buru-buru meminta masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh berbagai spekulasi yang berkembang di ruang publik yang belum jelas kebenarannya. Penegasan tersebut disampaikan Ketua DPP Gerindra Bambang Haryadi sebagai respons atas munculnya isu mengenai posisi duduk Presiden dan Wakil Presiden yang tidak berdampingan saat Sidang Kabinet Paripurna pada Senin (20/7).

Menurut Bambang, pengaturan posisi tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan hubungan keduanya, melainkan murni kebutuhan teknis pelaksanaan sidang paipurna kabinet.

Baca juga :   Didukung Ratusan Pengacara, Anies-Gus Imin akan Hadiri Sidang PHPU Perdana di MK

“Jadi, saya perlu tegaskan, Pak Presiden Prabowo dan Mas Wapres Gibran saling melengkapi dalam bekerja. Keduanya selalu kompak,” ujar Bambang di Jakarta, Rabu (22/7).

Ia mengatakan, kekompakan Prabowo dan Gibran selama ini terlihat jelas dari pembagian tugas yang berjalan baik. Presiden, kata dia, memberikan ruang kepada Wakil Presiden untuk turun langsung ke berbagai daerah guna menyerap aspirasi masyarakat sekaligus memastikan berbagai program pemerintah berjalan sesuai target.

“Mas Gibran sering mewakili Presiden melakukan kunjungan ke daerah. Itu merupakan bentuk nyata sinergi dan kekompakan keduanya dalam menjalankan pemerintahan,” katanya.

Baca juga :   Jika Tertutup, HNW: MK Inkonsisten, Berarti Mundur ke Sistem Pemilu Orde Baru

Bambang yang juga meminta publik tidak membangun spekulasi berlebihan terkait hubungan Presiden dan Wakil Presiden. Ia menilai ada pihak-pihak tertentu yang mencoba membangun narasi provokatif untuk memecah soliditas pemerintahan.

Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan alasan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran tidak duduk berdampingan saat Sidang Kabinet Paripurna pada Senin (20/7).

Menurut Prasetyo, pengaturan tempat duduk dilakukan semata-mata untuk mendukung kebutuhan teknis presentasi Presiden. Dalam sidang tersebut, Prabowo menyampaikan berbagai program pemerintah yang didukung data serta menggunakan teleprompter sebagai alat bantu.

Baca juga :   Sekjen PDIP Ajukan Penangguhan Penahanan, Maqdir: Perlawanan Jalan Terus

“Karena Presiden ingin menjelaskan banyak program yang harus didukung data-data, maka beliau menggunakan teleprompter. Itulah yang menjadi alasan pengaturan layout tempat duduk,” jelas Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (21/7).

Ia menambahkan posisi Presiden berada di tengah ruangan agar penyampaian materi lebih efektif. Sementara posisi Wakil Presiden disesuaikan dengan kebutuhan teknis jalannya sidang, sehingga tidak memiliki makna politis apa pun.

Dengan penjelasan tersebut, pemerintah maupun Partai Gerindra berharap masyarakat tidak lagi mengaitkan pengaturan posisi duduk dalam sidang kabinet dengan isu hubungan pribadi maupun politik antara Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *