INDOSatu.co – JAKARTA – Mahasiswa yang tergabung Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia dan Front Mahasiswa Nasional (FMN) menggelar demonstrasi dan menyampaikan delapan tuntutan, pada Selasa (18/8) petang.
Hingga akhir demo, para mahasiswa tak berhasil mencapai tujuan lokasi aksi mereka di Bundaran Hotel Indonesia karena barisan aparat mengadang mereka sekitar satu kilometer dari Bundaran Hotel Indonesia. Bahkan yang terjadi, imbauan dari polisi agar mahasiswa tidak memaksa maju.
Meski diultimatum aparat, para mahasiswa terus berjalan dan bergerak maju, sembari berorasi dan menyanyikan yel-yel “pembunuh, pembunuh, pembunuh”, disusul “buka, buka jalannya sekarang juga”.
“Tolak tolak MBG sekarang juga,” kata para mahasiswa yang mengenakan jaket kuning.
Seperti rencana awal, tuntutan mereka tak bergeser dari delapan poin penting yang dipampang dalam poster bergambar sindiran maupun kritikan terhadap kebijakan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut penuturan Kepala Departemen Kajian Strategis BEM UI Namora Diarta, kedatangan mereka sempat terkendala lantaran puluhan bus yang awalnya mereka sewa tiba-tiba menyatakan batal.
Para mahasiswa menyatakan terpaksa menggunakan transportasi umum dari Depok menuju Bundaran Hotel Indonesia. Perwakilan mahasiswa UI sempat bernegosiasi dengan perwakilan polisi agar dibiarkan menuju Bundaran HI, tetapi ditolak polisi.
Rombongan mahasiswa kemudian turun dari kendaraan roda empat yang ditumpangnya, lalu berjalan kaki menuju Bundaran HI.
Massa mahasiswa sempat berorasi di depan barikare aparat. Sampai sekitar pukul 15.00 WIB, rombongan secara beriringan menuju Bundaran HI. Mereka meninggalkan kendaraan roda empat yang mereka tumpangi di Jalan Sudirman, tidak jauh dari Stasiun KRL Sudirman.
Dalam demonstrasi kali ini, BEM UI dan FNM mengajukan delapan tuntutan, yakni; 1. Hentikan penjajahan negara atas rakyat sendiri; 2. Hentikan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN); 3. Wujudkan reforma agraria sejati; dan 4. Turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM.
Selain itu, 5. Evaluasi total PSN serta hentikan MBG dan KDMP; 6. Hentikan pemusatan kekuasaan, pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD), dan kembalikan otonomi daerah; 7. Tetapkan status bencana nasional untuk daerah Sumatra dan Flores serta percepat pemulihan wilayah terdampak bencana serta 8. Hentikan represifitas dan intervensi TNI-Polri dalam ruang sipil serta bubarkan YON TP.
Para mahasiswa UI pun mempersoalkan apa yang mereka sebut sebagai “seremoni kenegaraan” menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia pada Senin (17/8).
“Kami turun ke jalan bukan untuk merayakan, tapi untuk bertanya dengan lantang: kemerdekaan macam apa yang sedang kita rayakan? Kemerdekaan yang diperjuangkan pendiri bangsa 81 tahun lalu?” kata Ketua BEM UI Yatalathof Imawan kepada media, Senin (17/08).
Daftar tuntutan mahasiswa pada demonstrasi hari ini saling terkait, kata wakil ketua BEM UI, Fatimah Azzahra. “Semua tuntutan kami punya benang merah, menunjukkan negara yang semakin kuat, dan rakyat yang semakin lemah,” terang Fatimah.
Namun, menurutnya, kekuatan negara tidak dipakai dengan benar justru membuat posisi rakyat semakin lemah.
Apalagi, tidak ada keseimbangan demokrasi dalam eksekutif dan legislatif, dan anggota DPR menjadi jubir partai masing-masing. Hal ini, menurutnya, akhirnya berdampak pada eksekutif dengan koalisinya.
“Mereka (pemerintah dan DPR) harus melihat bahwa ada konsekuensi pelanggaran keseimbangan itu, termasuk keseimbangan alam, dan semuanya ada dalam delapan tuntutan kami,” beber Fatimah. (*)



