Ketum PBNU Gus Kikin dan Anies Baswedan Bersahabat. Ini Buktinya…

  • Bagikan
SEPERTI KELUARGA: Tokoh nasional Anies Baswedan (kanan) bersilaturrahmi ke Pondok Pesanren Tebuireng, Jombang dan langsung disambut KH. Abdul Hakim Mahfudz (kiri) di Ndalem Kasepuhan (kediaman utama pengasuh pesantren).

INDOSatu.co – JAKARTA – KH Abdul Hakim Mahfudz, 68, atau Gus Kikin baru saja terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode 2026-2031 di Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8) pagi.

Sebagai pengasuh Ponpes Tebuireng, Jombang, Gus Kikin ternyata sangat dekat dengan berbagai kalangan, salah satunya adalah tokoh nasional Anies Baswedan. Kedekatan antara Anies Baswedan dan Gus Kikin ternyata sudah terbangun lumayan lama melalui jalur kultural, hubungan historis keluarga, dan silaturahmi spiritual yang konsisten selama bertahun-tahun.

Dikutip dari Google AI atau Gemini, Selasa 1 September 2026. hubungan tersebut tidak bersifat politis praktis (mengingat NU memegang teguh prinsip khittah), melainkan berbasis pada kedekatan personal dan takzim keilmuan pesantren.

Detail rincian kedekatan hubungan keduanya dapat dipetakan sebagai berikut: Akar kedekatan Anies Baswedan dengan lingkungan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang,— yang kini diasuh oleh Gus Kikin,— sudah dimulai sejak masa kepemimpinan almarhum KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah).

Baca juga :   Respon Putusan Fadel, Wakil Ketua MPR: Prematur, Ada Pendapat Bahayakan Sistem Ketatanegaraan

Anies memiliki hubungan kekeluargaan dan intelektual yang sangat akrab dengan Gus Sholah sejak lama, di mana kakek Anies (A.R. Baswedan) dan ayah Anies (Rasyid Baswedan) bersahabat baik dengan keluarga besar Tebuireng.

Setelah Gus Sholah wafat pada 2020, dan estafet pengasuh Tebuireng diteruskan oleh Gus Kikin, jalinan silaturahmi kultural tersebut terus dijaga dan diwarisi secara baik oleh Anies terhadap Gus Kikin.

Anies juga tercatat berulang kali mengunjungi Ponpes Tebuireng dan selalu disambut dengan sangat hangat oleh Gus Kikin di ndalem kasepuhan (kediaman utama pengasuh pesantren.

Salah satu momen krusial terjadi pada 31 Agustus 2023 (tepat satu hari sebelum deklarasi pasangan Capres-Cawapres bersama Muhaimin Iskandar). Saat tiba, Anies secara takzim langsung mencium tangan Gus Kikin. Mereka kemudian melakukan diskusi tertutup mengenai nilai-nilai kebangsaan, keumatan, dan pendidikan.

Baca juga :   Gugatan Pendukung Moeldoko Kembali Ditolak, Mehbob: Kado Akhir Tahun

Gus Kikin sendiri dalam keterangannya mengonfirmasi bahwa ia sudah mengenal Anies jauh sebelum Anies maju dalam kontestasi politik nasional. Gus Kikin menganggap kehadiran Anies ke kediamannya seperti bagian dari keluarga besar karena intensitas kunjungan yang sering dilakukan mantan Rektor Universitas Paramadina, Jakarta itu.

Sebaliknya, kedekatan interpersonal ini juga terbukti masuk ke ranah kekeluargaan yang privat. Gus Kikin sempat hadir langsung sebagai tamu undangan dalam resepsi pernikahan putri Anies Baswedan, Mutiara Annisa Baswedan, di Jakarta pada Juli 2022. Sebaliknya, saat Anies melakukan kunjungan personal ke Jombang untuk menghadiri undangan pernikahan kerabat pada Januari 2024, Anies kembali meluangkan waktu khusus untuk sowan menyambangi Gus Kikin.

Anies Baswedan seringkali merasa bahwa berkunjung ke Tebuireng dan bertemu Gus Kikin seperti “pulang ke rumah sendiri”. Hal ini disebabkan karena Anies merupakan alumni dari Pondok Pesantren Pabelan di Jawa Tengah.

Baca juga :   Jokowi Akui Perintahnya, Anthony: Bukti Jaksa dan Hakim Bermufakat Jahat

 

Di ponpes tersebut, Anies berguru langsung kepada KH Hamam Jakfar, seorang ulama besar yang sanad mengaji dan keilmuannya merupakan lulusan dari Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Keterikatan sanad keilmuan ini membuat komunikasi antara Anies dan Gus Kikin selalu cair dan penuh rasa takzim khas pesantren.

Meskipun memiliki kedekatan personal yang sangat erat dan harmonis, keduanya menaruh rasa hormat tinggi pada batasan kelembagaan. Gus Kikin secara konsisten menegaskan bahwa sebagai bagian dari kepemimpinan Nahdlatul Ulama, institusi NU harus berdiri di atas semua golongan.

NU harus menjaga jarak yang sama dengan seluruh tokoh bangsa tanpa terlibat dalam politik praktis dukung-mendukung. Hubungan mereka sepenuhnya dirawat sebagai bentuk persaudaraan keumatan (ukhuwah islamiyah) dan pelestarian tradisi leluhur bangsa. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *