MAJALAH Foreign Affairs edisi Maret/April 2026 memuat artikel menarik karya Zack Cooper, Asia After America: How U.S. Strategy Failed and Ceded the Advantage to China. Tesis utamanya sederhana, namun provokatif: kemunduran posisi Amerika Serikat di Asia bukan terutama disebabkan oleh kehebatan China, melainkan oleh kegagalan Washington sendiri menjalankan strategi yang konsisten.
Pandangan tersebut layak mendapat perhatian serius. Namun, dari perspektif Asia, khususnya ASEAN, persoalannya sesungguhnya lebih kompleks daripada sekadar pertarungan antara dua kekuatan besar.
Sejak Presiden Barack Obama meluncurkan kebijakan Pivot to Asia pada 2011, tiga pemerintahan Amerika—Obama, Donald Trump, dan Joe Biden—sama-sama menyatakan bahwa Indo-Pasifik merupakan prioritas strategis utama.
Namun dalam praktiknya, perhatian Washington terus terpecah oleh berbagai krisis lain, mulai dari Timur Tengah, Afghanistan, Ukraina, hingga konflik-konflik baru yang menyedot sumber daya politik, diplomatik, dan militer Amerika. Ironinya, ketika Amerika berulang kali menyatakan bahwa masa depan geopolitik dunia berada di Asia, fokus strategisnya justru berkali-kali bergeser ke kawasan lain.
Mantan Deputi Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Kurt Campbell, pernah menyatakan bahwa masa depan geopolitik abad ke-21 akan ditentukan di Indo-Pasifik. Pernyataan itu tidak keliru. Yang menjadi persoalan adalah konsistensi dalam mewujudkannya.
Di sisi lain, China tidak perlu memenangkan konfrontasi militer untuk memperkuat posisinya. Beijing justru memanfaatkan ruang yang tercipta akibat inkonsistensi Washington. Melalui investasi infrastruktur, perdagangan, pembiayaan pembangunan, serta berbagai inisiatif seperti Asian Infrastructure Investment Bank dan Belt and Road Initiative, China secara perlahan menghubungkan kepentingan ekonominya dengan pengaruh politik kawasan.
Pelajaran pentingnya sederhana: dalam hubungan internasional, konsistensi sering kali lebih berharga daripada retorika yang ambisius.
Sebagaimana pernah diingatkan oleh Henry Kissinger, strategi yang berhasil tidak hanya ditentukan oleh kekuatan, tetapi juga oleh kesabaran dan kesinambungan kebijakan. Dalam aspek inilah China menunjukkan keunggulan yang tidak selalu dimiliki Washington.
Namun, saya juga melihat bahwa Zack Cooper masih memandang Asia terutama melalui kacamata Washington. Seolah-olah masa depan kawasan hanya ditentukan oleh keberhasilan atau kegagalan Amerika menghadapi China. Pandangan tersebut kurang sepenuhnya mencerminkan dinamika Asia hari ini.
Sebagian besar negara Asia tidak ingin dipaksa memilih antara Washington dan Beijing. Mereka justru berusaha mempertahankan hubungan baik dengan keduanya. Strategi hedging bukanlah tanda kelemahan ataupun kebingungan, melainkan bentuk pragmatisme diplomatik yang lahir dari kepentingan nasional masing-masing.
Bagi banyak negara Asia, perdagangan, investasi, konektivitas, dan pembangunan ekonomi sering kali lebih mendesak daripada persaingan geopolitik. Amerika menawarkan jaminan keamanan. China menawarkan pasar dan investasi. Banyak negara memerlukan keduanya secara bersamaan.
Di sinilah perspektif ASEAN menjadi penting.
Melalui ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP), ASEAN menegaskan bahwa Indo-Pasifik seharusnya menjadi kawasan kerja sama, bukan arena konfrontasi. Prinsip ASEAN Centrality juga menunjukkan bahwa negara-negara Asia Tenggara tidak ingin menjadi objek perebutan pengaruh, melainkan tetap menjadi subjek yang ikut membentuk tatanan kawasan.
Pandangan ini sejalan dengan gagasan Amitav Acharya mengenai Multiplex World Order. Menurut Acharya, dunia tidak lagi bergerak menuju tatanan unipolar ataupun bipolar, melainkan menuju sistem yang lebih majemuk, di mana berbagai kekuatan regional ikut membentuk tata kelola global.
Dalam konteks tersebut, masa depan Asia tidak semata-mata ditentukan oleh apakah Amerika mampu mempertahankan dominasinya atau apakah China berhasil memperluas pengaruhnya. Yang semakin menentukan adalah kemampuan negara-negara Asia sendiri menjaga keseimbangan, memperkuat institusi regional, dan mengelola rivalitas kekuatan besar agar tidak berubah menjadi konflik terbuka.
Bagi Indonesia, perubahan ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Sebagai negara terbesar di ASEAN, Indonesia memiliki kepentingan untuk memastikan kawasan tetap stabil, terbuka, dan bebas dari logika politik blok. Diplomasi Indonesia tidak seharusnya diarahkan untuk memilih salah satu kekuatan besar, melainkan memperkuat sentralitas ASEAN sebagai jembatan dialog dan kerja sama.
Caveat
Tentu terlalu dini menyimpulkan bahwa Amerika sedang kehilangan Asia. Washington masih memiliki jaringan aliansi yang luas, keunggulan teknologi, universitas terbaik dunia, dominasi finansial global, serta kemampuan militer yang belum tertandingi. Demikian pula, pengaruh ekonomi China tidak berarti seluruh negara Asia otomatis menerima kepemimpinan Beijing tanpa reserve. Kompetisi strategis kedua negara kemungkinan masih akan berlangsung panjang dengan hasil yang belum sepenuhnya dapat dipastikan.
Kesimpulan
Pelajaran terbesar dari dinamika Indo-Pasifik saat ini bukanlah bahwa China sedang menggantikan Amerika sebagai pemimpin kawasan. Pelajaran yang lebih penting adalah bahwa negara-negara Asia semakin percaya diri menentukan kepentingannya sendiri.
Pada akhirnya, kawasan ini tidak akan dibentuk semata-mata oleh siapa yang memiliki kapal induk lebih banyak atau anggaran pertahanan yang lebih besar. Masa depan Asia akan lebih ditentukan oleh siapa yang mampu menghadirkan kemitraan yang konsisten, kredibel, dan saling menguntungkan.
Dalam dunia yang semakin multipolar, kekuatan tetap penting. Namun bagi Asia, kepercayaan dan konsistensi akan menjadi mata uang strategis yang jauh lebih bernilai. (*)
Yuri O. Thamrin;
Penulis adalah Pengamat Hubungan Internasional, mantan Duta Besar RI untuk Belgia, Luksemburg, Uni Eropa, dan Kerajaan Inggris.



