INDOSatu.co – MALANG – Rencana PP Muhammadiyah untuk memiliki pabrik infus dipastikan segera terealisasi. Hal itu dibuktikan dengan kesiapan mengalokasikan lahan untuk pembangunan pabrik. Renacananya, lokasi pabrik tersebut menggunakan lahan milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia bakal menggunakan lahan kurang lebih 3 hektare dari total 14 hektare aset lahan UMM di lokasi tersebut. Untuk merealisasikan misi tersebut, peletakan batu pertama pembangunan pabrik tersebut langsung dilakukan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir.
Selain menghadirkan Haedar, Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji Prof Muhadjir Effendy, Ketua PP Muhammadiyah DR. Saad Ibrahim, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI sekaligus Sekretaris BPH UMM Prof Fauzan serta Ketua PW Muhammadiyah Jawa Timur Prof. Sukadiono juga tampak menghadiri peletakan batu pertama proyek tersebut pada Kamis (11/6/2026).
Pabrik tersebut diproyeksikan menjadi penopang utama rantai pasok alat kesehatan, baik jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah maupun masyarakat. Hal itu bisa dimaklumi karena Muhammadiyah memang memiliki ratusan rumah sakit dan balai pengobatan yang tersebar di seluruh Indonesia.
Prof Haedar mengatakan, pendirian pabrik infus adalah manifestasi dari ekosistem socio-religious corporation yang digagas oleh persyarikatan. Menurut dia, inisiatif tersebut membuktikan organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui aktivitas bisnis profesional yang orientasi utamanya adalah kemaslahatan publik dan kontribusi nyata bagi negara, bukan sekadar mencari keuntungan finansial.
PT Suyavena Farma Indonesia sendiri ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. ” Ini (PT Suryavena, Red) bukan untuk Muhammadiyah, tetapi juga untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” ucap Haedar.
Menurut Haedar, agama tidak sebatas mengatur akidah dan ibadah, melainkan juga urusan muamalah dalam tata kehidupan sosial ekonomi. Karena itu, sambung dia, keterlibatan di sektor industri medis ini diposisikan sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan guna menopang berbagai layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat.
Wakil Rektor II UMM Dr Ahmad Juanda menjelaskan, kontribusi Kampus Putih tidak berhenti pada penyediaan lahan. Ke depannya, kawasan ini akan diintegrasikan menjadi ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang mempertemukan aktivitas industri dengan fungsi tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).
“Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional. Selain mendukung layanan kesehatan, kawasan ini juga dirancang untuk menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan,” ucap Juanda.
Dengan beroperasinya pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia tahun depan, kata Juanda, langkah itu diharapkan menjadi tonggak sejarah baru dalam penguatan industri kesehatan berbasis nilai sosial di Tanah Air.
Kolaborasi lintas sektor menjadi pesan kuat bahwa kemandirian ekonomi, inovasi pendidikan, dan pelayanan publik yang inklusif dapat berjalan beriringan demi menghadirkan manfaat yang seluas-luasnya bagi pembangunan bangsa. (*)



