Listyo Sigit, Ken Arok, dan Brutus Moderen

  • Bagikan

PENYADAPAN terhadap hape Presiden Prabowo Subianto yang diduga dilakukan oleh Mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (LSP) dkk, itu kejahatan yang sangat luar biasa. An extraordinary crime. Mustahil, perbuatan itu untuk kebaikan negara, ataupun untuk kebaikan pejabat yang disadap. Dapat dipastikan, aksi itu cethoh weloh-weloh (sangat jelas) bertujuan merusak. Mengganggu orang-orang yang disadap.

Apa yang dilakukan LSP dan sejumlah pejabat tinggi Polri itu mengingatkan pada kisah kelam zaman kerajaan di Jawa dulu. Orang kepercayaan penguasa, tetapi justru menikam penguasa secara licik dari belakang.

Salah satu kisah, Ken Arok tega membunuh Tunggul Ametung, penguasa Tumapel saat itu. Padahal, Ken Arok adalah pengawal pribadi Tunggul Ametung. Itu demi cinta Ken Arok yang ingin mengawini Ken Dedes, istri Tunggul Ametung yang sangat cantik. Dan, demi ambisi Ken Arok ingin menjadi penguasa Kerajaan Singasari. Apakah LSP dkk diilhami apa yang pernah dilakukan Ken Arok?

LSP yang dipercaya sebagai kepala KSP (Kantor Staf Presiden), dan sebelumnya sebagai Kapolri, tentu, adalah orang kepercayaan Presiden Prabowo. Tetapi, ironisnya, LSP dkk justru melakukan penyadapan secara ilegal terhadap alat komunikasi Presiden Prabowo. Istilahnya, LSP dkk menggunting dalam lipatan.

Sejarah kelam, di mana orang dekat penguasa justru membunuh sang penguasa, juga pernah terjadi di zaman Romawi Kuno, sebelum masehi. Raja Romawi Jenderal Julius Caesar yang hebat, mati secara mengenaskan dikeroyok orang-orang dekatnya. Satu di antara orang-orang dekat Caesar itu bernama Marcus Junius Brutus.

Baca juga :   Rupiah Jatuh karena Trush, Ini Nasihat SBY...

Dia ini anak angkat Caesar. Sebelum Caesar menghembuskan nafas terakhirnya, dia berucap: Et tu,  Brute (kau juga, Brutus, anakku?). Caesar akhirnya tahu bahwa anak angkatnya ikut membunuh bapak angkatnya sendiri. (bahan dari Meta AI).

Jika yang dilakukan oleh LSP dkk targetnya adalah merusak tatanan kenegaraan, ataupun menghancurkan reputasi penguasa yang disadap, sungguh perbuatan itu jauh lebih kejam dibanding apa yang dilakukan Ken Arok. Ataupun, apa yang pernah dilakukan Brutus-Brutus Romawi di masa silam. Brutus moderen lebih canggih dan lebih kejam daripada Brutus sebelum masehi.

Ken Arok membunuh Tunggul Ametung dengan kerisnya sendiri. Bukan dengan menggunakan anggaran negara. Ken Arok pesan keris kepada Empu Gandring. Singkat cerita, keris itulah yang dipakai Ken Arok untuk menikam Tunggul Ametung.

Ada beberapa alasan mengapa apa yang dilakukan LSP dkk dapat dikategorikn sangat kejam. Pertama, operasi penyadapan itu dilakukan sejumlah pejabat tinggi negara yang diasumsikan sangat paham tentang hukum. Mereka ini orang-orang pilihan di Ring 1 kekuasaan. Mereka ini pasti paham betul bahwa penyadapan tanpa alasan hukum, apalagi penyadapan terhadap alat komunikasi presiden, itu kejahatan yang sangat luar biasa. Ancaman hukumannya sangat berat.

Baca juga :   Negara PKI?

Kedua, target penyadapan itu tidak hanya satu atau dua orang. Tapi banyak tokoh dari berbagai latar belakang. Politisi, tokoh masyarakat, pengusaha, dan sebagainya. Lebih-lebih target utamanya adalah RI 1, Pak Presiden yang merupakan simbol negara. Tersangka pelaku penyadapan melibatkan banyak orang. Secara berjamaah. Sasaran korbannya juga berjamaah. Dan, konon, penyadapan itu berlangsung sejak 2025.

Ketiga, sarana dan prasarana, atau peralatan yang dipakai penyadapan berasal dari uang negara. Bayangkan, uang negara dipakai untuk mengacaukan/merusak negara. Ini kategori subversif. Ini aksi makar.

Keempat, dengan meng-TO (target operasi) presiden dalam penyadapan, tidaklah berlebihan dikatakan bahwa aksi itu untuk mengganggu posisi presiden. Sangat mungkin, targetnya presiden didelegitimasi, kemudian wakil presiden dinaikkan. Jika ini betul-betul terjadi berarti ada suksesi di tengah jalan, suksesi inkonstitusional. Yang bertepuk tangan Gengs Solo..

Selama ini, LSP dikenal sebagai orang dekat mantan Presiden Jokowi. Dia pernah menjadi ajudan Presiden Jokowi 2014-2016. Kemudian LSP diangkat menjadi Kapolri pada 2021-2026, sebelum akhirnya diangkat menjadi KSP (Kepala Staf Presiden) Prabowo. LSP pernah menjadi Kapolri di masa Jokowi dan di masa Prabowo.

Baca juga :   China Nol Persen

Melihat karir  LSP di kepolisian, maka tidak salah dikatakan bahwa LSP adalah orang kepercayaan Jokowi. Karena itu, dalam batas-batas tertentu, sangat wajar jika loyalitas LSP kepada Jokowi dan keluarga sangat tinggi. Karena itu, wajar juga jika banyak nitizen mengaitkan penyadapan yang dilakukan LSP terhadap Prabowo adalah untuk kepentingan politik keluarga Jokowi. Lagi-lagi Gengs Solo.

Dalam hal-hal tertentu, wajar jika LSP ingin berbuat baik untuk Jokowi. Ibarat sebagai ungkapan terima kasih atas jasa-jasa Jokowi. Tetapi, jika dihadapkan pada kepentingan negara, harusnya LSP dkk berusaha bersikap rasional dan konstitusional. Harus lebih mengutamakan kepentingan negara daripada untuk kepentingan pribadi. Apalagi, untuk kepentingan pribadi yang merusak.

Perintah yang inkonstitusioal yang dapat merusak negara, tidak seharusnya dipatuhi dan dilaksanakan. Sebagai pejabat negara yang mendapatkan berbagai fasilitas dari negara, tentunya negara harus dinomorsatukan. Apalagi, jika bisikan-bisikan dari seseorang itu sangat bertentangan dengan hukum. Juga, berpotensi mengacau-balaukan tatanan bernegara. Entahlah, saya nggak tahu. Roh jahat mana yang menguasai nafsu LSP dkk selama ini… (*)

DR. H. Mundzar Fahman, MM.;
Penulis adalah mantan wartawan Jawa Pos, tinggal di Bojonegoro, Jawa Timur.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *