Pengusaha dan Politik Santun Rachmat Gobel

  • Bagikan
DIKENANG: Almarhum Rachmad Gobel (kiri) dan Dahlan Pido, advokat senior dan teman sekampung dari Gorontalo.

RACHMAT GOBEL telah meninggal dunia Jumat (10/7). Meninggalkan dunia yang fana ini. Siapapun yang mengenal dekat maupun yang hanya tahu sekilas, almarhum Rachmat Gobel tetap saja meninggalkan banyak kenangan buat Indonesia, khususnya masyarakat Gorontalo dan perusahaan di bawah Gobel Group (Panasonic).

Mendengar Gobel orang ingat perusahaan elektronik terbesar Indonesia, karena orang tua Rachmat Gobel, (almarhum Thayeb Mohammad Gobel) meninggal tahun 1984, merupakan orang pertama yang memproduksi radio transistor di Indonesia, sehingga Indonesia yang sangat luas, yang berpulau-pulau dan bergunung-gunung dapat terjangkau oleh suara radio Cawang produksi Perusahaan Elektronik Gobel Group tersebut.

Kesuksesan Gobel Group juga tak lepas dari buah keseriusan Rahmat Gobel. Terbukti, sepeninggal Thayeb Gobel, Gobel Group ekspansi menjadi perusahaan raksasa yang merambah ke televisi, ac, kulkas dan lain-lain. Almarhum Rachmat Gobel besar dari lingkungan pengusaha, dan baginya kiprah sebagai pengusaha ternyata belum menyudahi niatnya untuk berbuat bagi bangsa.

Sampai pada akhirnya, Rahcmat Gobel menerima ajakan wartawan senior Surya Paloh, yang menjadi ketua umum DPP Partai NasDem untuk bergabung didalamnya. Keterlibatan Rachmat Gobel ternyata tidak sia-sia.

Melalui Partai NasDem, Rachmat Gobel merasakan kursi DPR RI. Bahkan, pernah duduk menjadi Wakil Ketua DPR RI. RG, sapaan akrab Rachmat Gobel, juga pernah menjadi menteri Perdagangan di era periode pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla.

Baca juga :   Memaknai 99 Tahun Pendidikan Tinggi Hukum di Indonesia (Bagian-3)

Partai NasDem Gorontalo sangat beruntung memiiki figur RG, yang bisa membangun, dan membesarkan NasDem, dari partai yang belum begitu digandrungi oleh masyarakat, seperti Partai Golkar, PDIP, Gerindra, PAN, PPP dan Demokrat, menjadi terkenal seperti sekarang. NasDem Gorontalo bisa bersaing dengan dengan partai besar lainnya.

Pertanyaannya, bagaimana kelanjutan Partai NasDem Gorontalo sepeninggal RG. Sebab, RG  bukan sekedar pengusaha sukses, tetapi merupakan figur bertangan dingin dalam berpolitik praktis. Terbukti almarhum RG bisa menduduki Menteri Perdagangan periode Jokowi Oktober 2014-2019.

Usai menjadi Mendag, pada periode 2019-2024, RG mendulang suara dan menduduki sebagai Wakil Ketua DPR – RI di Senayan, dan periode saat ini 2024-2029 kembali terpilih menjadi anggota DPR-RI dari Dapil Gorontalo. Figur RG berpegang pada politik santun, yang memegang dan menghormati perbedaan.

Prinsip RG, pilihan boleh boleh beda, tetapi tetap menjaga adab. Tujuannya bukan kuat-kuatan menang dalam debat, membuka aib lawan, tetapi bagaimana menyelesaikan dan menyentuh masalah bersama dalam masyarakat.

Ada beberapa sosok yang menjadi rujukan RG berpolitik santun, seperti Presiden ketiga Almarhum Prof. BJ. Habibie, seorang teknokrat, ahli merakit pesawat terbang yang dalam kepemimpinannya mereformasi sistem bernegara yang merupakan titik krusial dalam transisi demokrasi Indonesia, atas kepercayaan rakyat berhasil menurunkan nilai dollar dari Rp. 16.500 menjadi Rp. 6.500.

Bukan hanya itu. Habibie juga membuka ruang partisipasi politik, memperkuat kebebasan sipil, kebebasan pers, dan mempersiapkan pemilu yang lebih demokratis. Almarhum BJ. Habibie menandai pergeseran dari pemerintahan otoriter Orde Baru menuju sistem politik yang lebih terbuka dan partisipatif, menghargai perbedaan,

Baca juga :   Konstruksi Pertumbuhan Ekonomi (Riil) melalui Operasi Statistik

Selain itu, Habibie juga menolak politik dinasti, dan menjaga integritas keutuhan bangsa. Bagi Almarhum BJ. Habibie, jabatan presiden bukan segalanya. Karena itu,  saat pertanggungjawabannya tidak diterima oleh Paripurna MPR-RI, walaupun dalam konstitusi bisa mencalonkan sebagai presiden berikutnya dengan kepercayaan rakyat yang masih tinggi, Habibie memilih tidak mau mencalonkan menjadi presiden.

Di luar negeri, kita mengenal Angela Merkel, mantan Kanselir Jerman, gayanya tenang, rasionalis, minim pencitraan, dijuluki “ibu Jerman”. Prinsip “Step by step”, tidak janji muluk tetapi konsisten. Kemudian ada Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan, gayanya pendamai saat berkuasa, dia mengajak rekonsiliasi yang pernah memenjarakannya.

Saking sntunnya, Mandela menyatakan “marah itu gampang, memaafkan itu yang butuh kekuatan, dia tolak politik balas dendam. Ada pula Barack Obama, mantan Presiden Amerika Serikat, gayanya orator yang menenangkan walaupun politik AS keras, dia terkenal bisa debat tanpa menghina pribadi, melalui slogan “Yes We Can”.

Ciri berpolitik santun ke-4 tokoh dunia di atas, bernegara melawan dengan ide, bicara berdasar data, bukan asumsi, dan kalau mengkritik kasih solusi, sehingga terjadi politik membangun.

Kembali ke figur almarhum RG. Dia buktikan saat menduduki Menteri Perdangan RI, yang membatasi perdagangan miras, pakaian bekas ekspor dan membatasi impor beras. Politik santun RG lebih banyak mendenger dulu, tidak menghindari masalah karena kebencian, tidak merendahkan dan menghindari fitnah.

Baca juga :   Saatnya Membantu Prabowo Kembali ke UUD 1945

Bagi RG, menang kalah adalah hal biasa, bekerja nyata untuk rakyat bukan untuk politik pribadi, niatnya tulus mengabdi. Almarhum RG dari jejak dan gaya bicaranya bukan retorika, dilakukan bukan untuk menyimpulkan, tetapi langkah untuk penyelesaian. Politik yang dilakukannya adalah politik pembangunan dan politik kesejahteraan,

PRAKTISI HUKUM: Dahlan Pido, SH., MH., advokat senior dari Provinsi Gorontalo.

RG datang membawa konsep dan visi. Pidatonya bukan teriakan, bukan janji melangit, dan lebih banyak edukasi untuk meluruskan niat politiknya. Kemenangan kita untuk rakyat bukan untuk pribadi, berpartai adalah tempat berkumpul orang-orang baik untuk mengabdi.

Almarhum RG meniatkan mewakili rakyat Gorontalo bukan hanya mewakili partai. RG berdiri di atas seluruh golongan, bergerak sebagai politikus dengan hati, beredukasi dan bermoral. Politik santun bukan berarti lembek, tetapi tetap kritis, contohnya pemusnahan pakaian bekas impor.

Contoh pemimipin di atas perlu menjadi panutan, kalau berdebat pakai data bukan hoax, melawan dengan ide bukan menyerang orangnya, Itulah yang mengilhami politik santun Rachmat Gobel, Selamat jalan Pak Rachmat Gobel. Semoga Allah SWT memberi ganjaran terbaik disisi-Nya. (*)

Dahlan Pido, SH., MH;
Penulis adalah Praktisi Hukum sebagai Advokat dari Provinsi Gorontalo.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *