Penasaran terhadap Wantimpres Prabowo

  • Bagikan

KEPUTUSAN Presiden Prabowo Subianto mengangkat 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).membikin saya sangat penasaran. Untuk apa dia mengangkat Wantimpres sebanyak itu. Efektifkah?

Dibanding era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko Widodo, jumlah anggota Wantimpres Prabowo amat besar. Pada era SBY dan Jokowi, Wantimpres hanya 9 orang. Naik hampir 300 persen, atau naik tiga kali lipat di era Prabowo. Pertanyaannya: untuk apa orang sebanyak itu?

Selain jumlahnya sangat banyak, gaji Wantimpres Prabowo juga amat sangat tinggi dibanding era sebelumnya. Karena, gaji lebih tinggi dan personel lebih banyak, maka, mau tidak mau, anggaran untuk Wantimpres juga sangat membengkak. Gaji dan tunjangan anggota Wantimpres Jokowi Rp 17,5 juta per bulan/orang. Atau, Rp 1,89 M per tahun untuk semua.

Sedangkan Wantimpres Prabowo Rp 76,5 juta per bulan/orang. Atau, Rp 23,8 M per tahun untuk semua anggota. Dari Rp 1,89 M pertahun menjadi Rp 23,8 per tahun. Kalau anggaran naik sekitar 12 kali dari sebelumnya, akankah Wantimpres Prabowo menghasilkan manfaat yang sebanding? Baik untuk negeri ini, ataupun untuk kepentingan politik sang boss?

Jika diamati sekilas, orang-orang yang duduk dalam Wantimpres Prabowo sangat variatif. Ada beberapa tokoh yang selama ini sangat dikenal publik sebagai orangnya Jokowi. Antara lain, Prof. Pratikno dan Muhammad Qodari.  Juga, ada dua nama lain yang periode lalu juga menjadi anggota Wantimpres Jokowi. Yaitu, Soekarwo (mantan Gubernur Jatim), dan Datok Sri Tahir.

Baca juga :   Mayor Agus Yudhoyono Wapres, Pantaskah?

Tetapi, juga ada tokoh yang selama ini dikenal sangat kritis terhadap penguasa. Terutama, terhadap Jokowi. Misalnya, Rocky Gerung. Salah satu kata Rocky yang viral di media sosial adalah ‘’dungu’’ yang ditujukan kepada pejabat yang salah ucap ataupun salah dalam membuat kebijakan publik.

Yang lebih aneh lagi, menurut saya, nama Anwar Usman juga dimasukkan dalam Wantimpres Prabowo. Padahal, dia ini ketua Mahkamah Konstitusi (MK)  yang sudah disanksi oleh Majelis Kehormatan MK. Usman diberhentikan karena dianggap melakukan kesalahan meloloskan Gibran Rakabuming Raka menjadi calon wakil presiden Pemilu 2024.

Menurut saya, orang yang punya track record- seperti itu, meski umpama ilmunya setinggi langit, rasanya sangat tidak pantas dijadikan Wantimpres. Usman adalah adik ipar Jokowi, yang berarti paman Gibran. Jangan sampai ada kesan: Wantimpres Prabowo rasa Jokowi…

Salah satu anggota Wantimpres Prabowo yang tepat adalah Ignasius Jonan. Dia ini mantan Menteri Perhubungan. Dia sangat sukses mereformasi perkereta-apian di negeri ini. Kereta api yang puluhan tahun dikesankan sebagai alat transportasi yang lamban, sering terlambat dari jadwal, sangat kumuh, dan berdesak-desakkan, dirombak total menjadi salah satu alat transportasi darat andalan di negeri ini. Publik tidak lagi memandang sinis kereta api. Tapi justru bangga naik kereta api karena nyaman, lancar, tertib, bersih, dan bergengsi.

Baca juga :   Jokowi Terkunci Mati Pasar Pramuka, Gibran Tunggu Ajal Politik

Dari melihat sekilas tentang figur-figur anggota Wantimpres Prabowo, mungkin banyak nitizen penasaran seperti saya. Untuk kepentingan apa sesungguhnya Prabowo membentuk Wantimpres dengan personel sebanyak itu? Yang menguras APBN sebesar itu? Apakah, Wantimpres yang jumlahnya hampir 4 kali lipat dibanding era SBY dan Jokowi itu semata untuk kepentingan politik Prabowo jangka pendek ini? Ataukah, untuk jangka panjang pasca 2029 nanti? Ataukah, untuk merumuskan peta jalan mencapai Indonesia Emas 2045?

Langkah Prabowo yang sangat potensial membikin warga penasaran tidak hanya soal jumlah Wantimpres yang dilantik pada 2 Oktober lalu itu. Beberapa waktu sebelumnya, 14 September 2026, Prabowo mencopot Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Yang bikin penasaran nitizen bukan hanya semata pemecatannya.

Tapi karena cara dan proses pemecatannya. Purbaya dipecat hanya lewat telepon, di saat dia sedang bicara dalam forum resmi, rapat dengan anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah) RI. Padahal, di mata banyak nitizen, Purbaya dinilai sebagai menteri keuangan yang hebat.

Baca juga :   Kesaksian Menkeu dan Menko dalam Sidang di MK (Bagian-1)

Langkah lain Prabowo juga mengundang tanda tanya besar adalah tentang jumlah menterinya. Sama dengan Wantimpres, jumlah menteri’anggota kabinet Prabowo juga meningkat tajam dibanding zaman Jokowi. Kabinet Indonesia Maju (KIM) Jokowi hanya 34 menteri dan 17 wakil menteri.

Tetapi, era Prabowo, anggota Kabinet Merah Putih (KMP) terdiri atas 48 menteri, 56 wakil menteri, dan 5 kepala badan setingkat menteri. Jumlah wakil menteri lebih banyak karena ada beberapa kementerian yang memiliki wakil menteri lebih dari satu orang.

Harusnya, membengkaknya jumlah menteri era Prabowo tidak boleh hanya untuk bagi-bagi jabatan untuk Tim Sukses-nya dalam pemilu lalu. Tetapi, wajib diikuti dengan peningkatan kerja pemerintah secara keseluruhan.

Begitu pula dengan meningkatnya jumlah Wantimpres. Anggaran yang sedemikian besar untuk operasional dewan ini haruslah menghasilkan hal-hal yang positif bagi bangsa ini. Bagi negeri ini. Tidak hanya untuk kepentingan politik sesaat orang per orang. Atau, kelompok per kelompok tertentu. (*)

DR. H. Mundzar Fahman, MM.;
Penulis adalah mantan wartawan Jawa Pos, tinggal di Bojonegoro, Jawa Timur.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *