Serang Fasilitas dan Jatuh Korban Warga Sipil, BKSAP DPR RI Kecam AS

  • Bagikan
KUTUK KERAS: Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Syahrul Aidi Maazat (tengah) menyikapi serangan Amerika Serikat (AS) terhadap fasilitas sipil dan menimbulkan jatuh korban warga sipil di Iran.

INDOSatu.co – JAKARTA – Serangan Amerika Serikat (AS) yang menyasar sejumlah fasilitas sipil di Iran menimbulkan kecaman dunia. Salah satu yang mengecam datang dari Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI Syahrul Aidi Maazat. Syahrul mengutuk keras serangan AS tersebut.

Syarul menilai, penggunaan kekuatan militer yang mengakibatkan korban dari kalangan warga sipil tidak dapat dibenarkan dan berpotensi memperburuk eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. DPR RI mengutuk dengan sekeras-kerasnya penggunaan kekuatan militer yang menyasar infrastruktur sipil dan menimbulkan korban dari warga tidak berdosa.

”Tidak ada pembenaran apa pun untuk serangan yang menewaskan dan melukai warga sipil,” tegas Syahrul dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (18/7).

Baca juga :   Rektor UGM soal Ijazah Jokowi hanya Narasi, Rizal: Rakyat Tidak Percaya

Berdasarkan laporan media internasional, serangan yang terjadi pada Kamis (16/7) menyasar sejumlah infrastruktur sipil, termasuk bandara, stasiun kereta api, dan dua jembatan di Iran. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka di kalangan masyarakat sipil.

Menurut Syahrul, meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz, seharusnya disikapi dengan mengedepankan dialog, bukan tindakan militer yang berisiko memperluas konflik.

“Di saat dunia membutuhkan lebih banyak dialog dan diplomasi, kita justru melihat kekerasan yang kembali menelan korban sipil. Ini adalah kemunduran bagi peradaban dan hukum internasional,” ujar Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PKS tersebut.

Baca juga :   Sikapi Gerakan Demo Mahasiswa, Said: Arahan Bu Mega Sudah Jelas

Ia menegaskan, penyelesaian sengketa internasional harus tetap berlandaskan hukum internasional, penghormatan terhadap kedaulatan negara, serta perlindungan terhadap warga sipil.

Karena itu, Syahrul mengajak seluruh negara, khususnya anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), untuk menolak penggunaan kekerasan sebagai instrumen penyelesaian konflik.

Menurutnya, Indonesia bersama negara-negara ASEAN telah menunjukkan bahwa pendekatan dialog, penghormatan terhadap kedaulatan, dan multilateralisme merupakan cara yang lebih efektif dalam menjaga stabilitas kawasan maupun hubungan antarnegara.

“Indonesia dan negara-negara ASEAN telah membuktikan bahwa dialog, penghormatan terhadap kedaulatan, dan prinsip-prinsip multilateralisme adalah jalan terbaik. Kita harus bersama-sama mencegah agar pendekatan kekerasan tidak menjadi norma dalam hubungan antarbangsa,” katanya.

Baca juga :   Koalisi 8 Parpol Berpeluang Hapus PT 20 Persen untuk Syarat Capres-Cawapres

Syahrul juga mendukung sikap Pemerintah Indonesia yang mendorong seluruh pihak segera menghentikan aksi militer dan kembali menempuh jalur perundingan. Ia turut meminta Dewan Keamanan PBB mengambil langkah konkret untuk mencegah meluasnya konflik serta memastikan perlindungan terhadap warga sipil.

“Perdamaian tidak akan pernah lahir dari bom dan peluru. Ia hanya bisa lahir dari keberanian untuk duduk bersama, mendengar, dan menghormati satu sama lain. Indonesia harus berada di garda depan menyuarakan itu,” pungkas legislator dari Daerah Pemilihan Riau tersebut. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *