Membaca Islamofobia dari Tragedi San Diego

  • Bagikan

ETIKA dua remaja bersenjata menyerang Islamic Center of San Diego pada 18 Mei 2026 menjelang tengah hari, banyak orang menganggapnya sekadar kasus kriminal atau kejahatan kebencian biasa. Namun bagi saya, peristiwa itu merupakan pengingat bahwa Islamofobia tidak pernah berdiri sendiri. Ia adalah fenomena multidimensi yang tumbuh dari berbagai sumber sekaligus.

Selama ini Islamofobia sering dipahami hanya sebagai prasangka terhadap agama Islam. Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks. Dalam kajian yang saya lakukan selama bertahun-tahun, Islamofobia berkelindan dengan rasisme, xenofobia, politik identitas, diskriminasi, pertarungan ideologi, hingga konstruksi budaya yang telah berlangsung sangat lama.

Kasus San Diego memperlihatkan hal tersebut dengan jelas. Berdasarkan laporan aparat, para pelaku meninggalkan manifesto yang tidak hanya berisi kebencian terhadap Islam, tetapi juga terhadap kelompok etnis, imigran, komunitas Yahudi, dan kelompok lain yang mereka anggap berbeda. Ini menunjukkan bahwa kebencian tidak bekerja secara sektoral. Ia membentuk satu paket ideologis yang memandang “yang lain” sebagai ancaman.

Baca juga :   Ferdy Sambo Akhirnya Nanti Akan Bebas?

Dalam konteks Amerika Serikat, dimensi migrasi juga tidak bisa diabaikan. Selama bertahun-tahun, isu pendatang sering dijadikan instrumen politik yang efektif. Ketakutan terhadap orang asing dipelihara dan dipasarkan kepada publik. Dalam situasi seperti itu, Muslim sering ditempatkan sebagai simbol dari ancaman yang dibayangkan, bukan ancaman yang nyata.

Dimensi politiknya juga sangat jelas. Sejak era pasca-9/11, dan terutama selama periode Donald Trump, retorika yang menghubungkan Islam dengan ancaman keamanan memperoleh ruang yang jauh lebih besar dalam wacana publik. Larangan masuk bagi warga dari sejumlah negara Muslim, tuduhan bahwa umat Islam akan “menginvasi” Amerika, hingga narasi bahwa syariat merupakan ancaman bagi demokrasi Barat, semuanya berkontribusi membentuk atmosfer sosial yang tidak sehat.

Kita hidup dalam era digital ketika kebencian dapat diproduksi, diperbanyak, dan disebarkan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Aparat San Diego menyebut para pelaku mengalami proses online radicalization. Istilah ini penting. Ia menunjukkan bahwa media sosial bukan sekadar sarana komunikasi, tetapi juga ruang pembentukan identitas, emosi, dan keyakinan.

Baca juga :   Matematika Sederhana Perkiraan Hasil Pilpres 2024: Gibran Effect Minus Besar

Ketika seseorang terus-menerus mengonsumsi konten yang menjelekkan kelompok tertentu, lama-kelamaan ia dapat hidup dalam apa yang saya sebut sebagai “ruang gema kebencian”. Di sana, prasangka berubah menjadi keyakinan, dan keyakinan dapat berubah menjadi tindakan.

Yang menarik, pada saat yang sama terjadi perkembangan lain yang jarang dibicarakan. Jika pasca-9/11 media Barat banyak dikritik karena membingkai Islam secara tidak adil, kini mulai terlihat pergeseran yang lebih positif. Sejumlah media besar mulai memberikan ruang yang lebih proporsional untuk menjelaskan Islam, Ramadan, Iduladha, dan kehidupan Muslim secara lebih manusiawi. Perubahan ini memang belum sempurna, tetapi patut diapresiasi.

Pertama, media harus terus meningkatkan literasi dalam memberitakan isu-isu Islam dan keberagaman. Kedua, masyarakat perlu memiliki kesadaran digital yang lebih kuat agar tidak menjadi penyebar kebencian secara tidak sadar melalui tombol share dan forwardKetiga, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan media perlu bekerja sama membangun budaya dialog yang sehat.

Baca juga :   Sumpah Alquran Walikota Zohran

Islamofobia bukan hanya persoalan umat Islam. Ia adalah bagian dari masalah yang lebih besar: dehumanisasi manusia atas manusia lainnya. Hari ini korbannya Muslim. Besok bisa kelompok lain.

Karena itu, melawan Islamofobia pada hakikatnya adalah memperjuangkan sesuatu yang lebih universal: hak setiap manusia untuk diperlakukan setara, dihormati martabatnya, dan hidup tanpa rasa takut karena identitas yang dimilikinya.

Tragedi San Diego mengingatkan kita bahwa kebencian tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh melalui narasi, diperkuat oleh politik, disebarkan oleh teknologi, dan akhirnya menemukan bentuknya dalam kekerasan. Karena itu, melawan Islamofobia bukan hanya tugas umat Islam, melainkan bagian dari perjuangan global melawan rasisme, diskriminasi, dan dehumanisasi di abad ke-21. (*)

Zulkarimein Nasution;
Penulis adalah Pemerhati media, penulis “Islamofobia: pengertian, konteks, dan media” (2024).

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *