INDOSatu.co – JAKARTA – Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan menyebut adanya anggapan bahwa Indonesia memiliki fiskal berlebih layak dipertanyakan. Sebab, pernyataan tersebut hanya fatamorgana yang tidak disertai data valid.
Dianggap fatamorgana, kata Anthony, karena faktanya justru neraca pembayaran mengalami defisit berkelanjutan. Pemerintah, bahkan termasuk Bank Indonesia, harus menarik utang untuk menutupi defisit neraca pembayaran. ”Jadi, itu kondisi yang tidak bisa disembunyikan,” kata Anthony kepada INDOSatu.co, Senin (8/6).
Yang terjadi saat ini, kata Anthony, cadangan devisa dibangun di atas tumpukan kewajiban utang luar negeri. Jumlah utang luar negeri mencapai lebih dari 430 miliar dolar AS. Sedangkan cadangan devisa per April 2026 hanya 146,2 miliar.
”Kondisi tersebut jelaslah tekor besar. Utang luar negeri menguap untuk membiayai defisit transaksi berjalan,” kata ekonom jebolan Erasmus University, Rotterdam, Belanda itu.
Ketika terjadi gejolak global seperti konflik Iran saat ini, ungkap Anthony, kreditor asing menarik kembali dananya, untuk ditempatkan di instrumen investasi yang lebih aman di luar negeri. Dengan penarikan dolar AS besar-besaran, berdampak pada kurs rupiah anjlok.
”Apalagi kalau faktor global dibarengi dengan kebijakan pemerintah yang tidak menentu, tidak ada dasar, tiba-tiba. Hal ini membuat investor tambah takut, capital outflow bertambah deras. Kurs rupiah semakin anjlok,” beber Anthony.
Anthony mengatakan, narasi Indonesia banyak duit hanya menjadi senyuman sinis di kalangan investor. Setiap orang bisa berhitung. Fiskal defisit, transaksi berjalan defisit. Jadi, uang dari mana kalau bukan dari utang, yang sekarang sedang terjadi arus balik keluar.
”Dalam keadaan terjepit itu, pemerintah sekarang berusaha keras menjual surat utang, untuk menumpuk devisa yang sudah turun 10,3 miliar selama 4 bulan pertama 2026,” tukas Anthony.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa beserta tim ekonomi, ungkap Anthony, harus menjajakan surat utang sampai ke China dan Inggris. Kalau dulu pepatah mengatakan “kejarlah ilmu sampai ke negeri China”, yang berlaku sekarang adalah “kejarlah utang sampai ke China”— sampai ke negeri seberang.
Publik pun mulai teringat kembali pernyataan Menteri Keuangan Purbaya beberapa waktu lalu, bahwa Indonesia menolak tawaran utang dari institusi keuangan global. Jumlahnya mencapai 25-30 miliar dolar AS.
”Tetapi, dalam waktu sekejap, pemerintah sekarang malah mencari utang ke manca negara. Jadi ini sangat ironis. Ada apa?,” kata Anthony penuh tanya.
Apakah benar institusi keuangan global tersebut menawarkan utang kepada Indonesia beberapa waktu yang lalu di Washington DC? Apa pun itu, yang penting fokus apa yang akan terjadi ke depan.
”Publik hanya bisa mengucapkan selamat bekerja, semoga berhasil menjajakan surat utang di negeri seberang,” pungkas Anthony. (*)



