VIDEO kritik yang disampaikan Dino Patti Djalal kepada Presiden Prabowo Subianto tentang frekuensi perjalanan luar negeri memunculkan diskusi yang lebih besar daripada sekadar urusan diplomasi.
Di balik kritik tersebut, tersimpan pertanyaan penting tentang bagaimana kekuasaan menerima masukan dan menjalankan mekanisme koreksi terhadap dirinya sendiri dalam menjalankan pemerintahan.
Dino bukanlah tokoh asing dalam dunia hubungan internasional Indonesia. Sebagai diplomat senior yang pernah menduduki berbagai posisi strategis, pandangannya lahir dari pengalaman panjang dalam membaca dinamika diplomasi global. Karena itu, kritik yang ia sampaikan layak dipahami sebagai masukan kebijakan, bukan sekadar perbedaan pendapat politik.
“Bapak Presiden telah menganugerahkan Bintang Mahaputera kepada saya, yang berarti Bapak mempercayai kredibilitas dan pandangan saya mengenai politik luar negeri. Karena itu, saya juga merasa memiliki tanggung jawab moril untuk menyampaikan pesan apa adanya.”
Ia kemudian mengutip sebuah kalimat yang menjadi inti pesannya: “Your friend is he who tells you the truth, not he who agrees with you.”
Kalimat tersebut sesungguhnya bukan hanya ditujukan kepada Presiden Prabowo, tetapi juga kepada seluruh lingkungan kekuasaan. Sebab dalam praktik politik, kritik yang jujur sering kali menjadi semakin langka seiring membesarnya kekuasaan seseorang.
Dino mempertanyakan apakah seluruh agenda diplomasi harus selalu dilakukan melalui kunjungan fisik ke luar negeri. Menurutnya, sebagian komunikasi antar pemimpin dunia dapat dilakukan melalui teknologi digital, sementara sejumlah pertemuan bilateral bisa dioptimalkan dalam forum internasional yang sudah berlangsung. Argumennya sederhana: efektivitas harus berjalan beriringan dengan efisiensi.
Tentu saja diplomasi tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh panggilan video. Kehadiran langsung seorang kepala negara tetap memiliki nilai strategis, simbolik, dan politik yang penting. Banyak kesepakatan besar lahir dari interaksi personal yang sulit dibangun melalui layar komputer.
Namun pertanyaan tentang efisiensi juga tidak bisa diabaikan. Ketika pemerintah mendorong penghematan anggaran di berbagai sektor, publik berhak mengetahui bahwa setiap perjalanan luar negeri memiliki tujuan yang jelas, hasil yang terukur, dan manfaat yang sepadan bagi kepentingan nasional.
Prabowo sesungguhnya beruntung masih memiliki sahabat yang berani mengingatkan. Sebab dalam lingkaran kekuasaan, kritik sering kali kalah oleh kenyamanan, kedekatan, dan privilege. Ketika terlalu banyak orang memilih diam, suara yang jujur justru menjadi aset paling berharga bagi seorang pemimpin.
Sejarah politik di banyak negara menunjukkan bahwa pemimpin jarang mengalami kesulitan karena kekurangan pendukung. Sebaliknya, masalah sering muncul ketika terlalu sedikit orang yang berani menyampaikan kabar buruk atau mengingatkan adanya kekeliruan.
Lembaga negara, para penasihat, maupun lingkaran terdekat kekuasaan idealnya berfungsi sebagai penyeimbang. Mereka tidak hanya bertugas memberikan dukungan, tetapi juga menyediakan ruang koreksi agar kebijakan yang diambil tetap berpijak pada kepentingan publik.
Pada akhirnya, kritik Dino Patti Djalal bukan sekadar tentang perjalanan luar negeri Presiden Prabowo. Kritik tersebut mengingatkan bahwa pemerintahan yang kuat tidak dibangun oleh pujian yang terus-menerus, melainkan oleh kesediaan mendengar pandangan yang berbeda.
Karena sahabat yang paling berharga bagi seorang pemimpin bukanlah mereka yang selalu setuju, melainkan mereka yang tetap berani mengatakan kebenaran ketika banyak orang memilih diam. (*)
Rudiyahya;
Penulis adalah Pemerhati Kebijakan Publik, asal Purbalingga, Jawa Tengah.



