Dilema; Prabowo Lanjut atau Lengser

  • Bagikan

SELAMA ini Presiden Prabowo Subianto banyak dikritik nitizen. Di-bully, dirujak, dan dihina (dijadikan bahan tertawaan) lewat media sosial. Bahkan, belakangan ini, diunjukrasa oleh ribuan mahasiswa. Mereka mengritik ucapan ataupun kebijakan Prabowo.

Nah, melihat itu semua, saya sangat khawatir, jangan-jangan Prabowo nanti akhirnya mengundurkan diri karena tidak tahan kritikan. Atau, jika tidak mundur, ya dimundurkan/dilengserkan. Pertanyaannya, jika sampai mundur atau dimundurkan, lalu siapa penggantinya nanti? Apakah kira-kira negeri ini lebih baik, ataukah lebih buruk, ataukah sami ugi sami mawon (sama saja)?

Jika yang mundur atau yang dimundurkan hanya Prabowo, tentu, sangat mungkin, yang menggantikannya adalah Wakil Presiden. Yaitu, Gibran Rakabuming Raka.

Tetapi, jika yang mundur, atau yang dimundurkan adalah Presiden Prabowo dan Wapres Gibran, lalu siapa yang akan menggantikannya? Mungkin saja, harus dilakukan pemilihan umum untuk memilih presiden dan wakil presiden baru. Pertanyaannya, manakah yang lebih aman (risiko lebih kecil) antara mempertahankan yang ada sekarang ini dibanding dengan harus melakukan pemilihan baru?

Menurut saya, semua warga yang mencintai negeri ini, hendaknya punya kekhawatiran seperti yang saya khawatirkan di atas. Karena, kondisi negara kita sekarang ini sedang tidak baik-baik saja. Jika salah dalam mengambil suatu keputusan, maka dampaknya akan sangat destruktif.

Jika jabatan Gibran naik dari wapres menjadi presiden. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana orang yang oleh banyak nitizen dikecam keras karena dianggap sebagai anak haram konstitusi itu menjadi presiden menggantikan Prabowo. Ketika menjadi wapres saja di-bully habis-habisan oleh nitizen, apalagi jika dia menjadi presiden nanti. Sangat mungkin, negeri ini akan kian gaduh. Gaduh berkepanjangan.

Baca juga :   Satu Dekade Reformasi Birokrasi dan Rangkaian Fakta Korupsi Terkini

Yang lebih dkhawatirkan lagi, jika Gibran menjadi presiden, mungkin bapaknya, Jokowi, akan turun gunung lagi. Jokowi tidak hanya sekadar ikut cawe-cawe dalam pembuatan kebijakan Gibran, tetapi lebih banyak menyetirnya secara langsung. Yang namanya bapak sayang anak, tentu bapak tidak tega melihat anaknya di-bully terus-terusan oleh nitizen.

Jika Gibran menjadi presiden, maka para pejabat loyalis Jokowi, ataupun para pemujanya (ternak Mulyono), akan berpesta pora besar-besaran. Mereka ini akan semakin bersemangat mendukung apapun kebijakan Gibran. Gibran rasa Jokowi. Jokowi rasa Gibran.

Lalu, bagaimana jika yang mundur atau yang dimundurkan adalah Prabowo dan Gibran? Kondisinya tetap sangat mengkhawatirkan. Situasinya tetap tidak baik-baik saja. Mengapa?

Jika yang mundur atau yang dimundurkan adalah Prabowo dan Gibran, maka akan diadakan pilpres baru. Jika pilpres diadakan dalam waktu dekat ini, maka sangat mungkin Jokowi dan para pemujanya akan kembali lagi. Kembali lagi tidak dalam bentuk menjadikan Jokowi sebagai presiden. Tetapi dalam bentuk usaha bagaimana yang menjadi presiden dan wakil presiden baru nanti adalah di antara para antek-antek Jokowi.  Konon, jarene jare, duit Jokowi iku triliun2an. Bisa untuk beli apa saja.

Baca juga :   Skenario Perseteruan Mega dan Jokowi

Saya menduga, para loyalis Jokowi sangat senang dengan banyaknya kritik terhadap Prabowo saat ini. Mereka juga senang terhadap demo-demo mahasiswa belakangan ini. Mungkin mereka berharap, jika Prabowo akhirnya mundur, atau dilengserkan, para loyalis Jokowi itu bisa berkuasa lagi. Berkuasa lewat Gibran sebagai presiden. Atau, berkuasa lewat pemilu baru nanti.

Harus diakui, hingga saat ini, pengaruh Jokowi masih sangat kuat di negeri ini. Kuat dan besar. Bukti-buktinya, indikator-indikatornya banyak sekali. Antara lain, banyak pejabat penting di era Jokowi, saat ini juga menjadi pejabat penting di Kabinet Merah Putih. Kabinet Prabowo. Hingga saat ini, juga tidak ada satu pun instansi negara yang berani memaksa Jokowi untuk menunjukkan ijazahnya yang diduga palsu itu.

Bukti lain, selama ini, nama Jokowi banyak disebut sebagai terlibat dalam kasus korupsi besar di negeri ini. Tetapi, hingga kini tidak ada sinyal sedikitpun dari penegak hukum untuk memanggil Jokowi. Prabowo pun, dalam suatu kesempatan berpidato, dia dengan lantangnya meneriakkan yel: ‘’Hidup Jokowi.’’ Mantabbb kan???

Kalau saya boleh berharap, tentu saya sangat berharap Prabowo mau segera memperbaiki kebijakan-kebijakannya yang banyak dikritik nitizen. Dengan begitu, mungkin kritik-kritik itu berkurang, kegaduhan-kegaduhan di media sosial berkurang, dan demo-demo mahasiswa pun bisa berkurang.

Misal, program MBG (Makan Bergizi Gratis). Dari awal, hingga kini, MBG banyak dikritik nitizen. Karena, anggarannya dianggap sangat besar. Setahun Rp 335 triliun. Apalagi, kini sedang ramai beberapa petinggi BGN (Badan Gizi Nasional) yang menangani MBG sudah ditangkap Kejaksaan Agung (Kejagung) karena diduga korupsi besar-besaran. Selain itu, kualitas makanan yang diberikan kepada para siswa penerima manfaat sangat tidak sebanding dengan anggaran yang ditetapkan.

Baca juga :   Ingin Tetap sebagai Irjenpol, Ferdy Sambo Pakai Nalar Apa?

Juga, soal program Prabowo tentang pembangunan KDMP (Koperasi Desa Merah Putih) setiap desa satu koperasi. Banyak hal yang harus dievaluasi dalam pengadaan KDMP yang dibangga-banggakan Prabowo itu. KDMP tidak harus dipaksakan secara serentak di 38 ribu desa. Harus bertahap. Mana yang betul-betul layak dan punya prospek bagus dilanjutkan. Yang belum siap, tidak harus dipaksakan ada.

MBG dan KDMP itu hanya sekadar contoh, hanya sebagian kecil di antara  kebijakan, atau ucapan Prabowo yang banyak dkritik nitizen. Prabowo harus bisa legowo terhadap kritik-kritik nitizen dan kemudian mau mengevaluasinya.

Sangat eman jika sampai ada demo berjilid-jilid. Demo menolak kenaikan harga BBM. Demo mengkritik pemborosan APBN. Jangan sampai demo-demo itu berujung pada tuntutan pelengseran. Kita sangat sayang pada negeri ini. Kita sangat hormat kepada anak bangsa yang sangat peduli untuk memperbaiki kondisi negeri ini. (*)

DR. H. Mundzar Fahman, MM.;
Penulis adalah mantan wartawan Jawa Pos, tinggal di Bojonegoro, Jawa Timur.

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *