Jalan Tangguh Iran, Cermin bagi Indonesia

  • Bagikan

MONARKI Monarki runtuh, revolusi meledak, lalu lahirlah sebuah republik yang sejak awal hidup dalam kepungan. Belum sempat luka revolusi mengering, perang delapan tahun dengan Irak menguras tenaga bangsa.

Kota-kota dihujani rudal, ekonomi tertekan, dan generasi muda tumbuh dalam bayang-bayang konflik. Dunia menyaksikan, tetapi tidak selalu berpihak. Namun Iran tidak runtuh.

Ketika perang berakhir, ujian berganti wajah. Embargo ekonomi dan sanksi internasional datang berlapis-lapis, membatasi akses terhadap perdagangan, teknologi, dan pembiayaan. Banyak yang memperkirakan negeri itu akan menyerah. Yang terjadi justru sebaliknya: keterbatasan memaksa lahirnya kreativitas.

Di laboratorium, kampus, dan pusat-pusat riset, mereka belajar memproduksi apa yang tak lagi dapat diimpor. Dari obat-obatan hingga satelit, dari teknologi nuklir sipil hingga pesawat nirawak, dari rekayasa material hingga inovasi kesehatan, kebutuhan berubah menjadi pendorong kemandirian.

Pelajaran terpenting dari pengalaman itu bukan semata keberhasilan teknologi, melainkan lahirnya budaya ketahanan (resilience). Bangsa yang terus-menerus menghadapi tekanan akhirnya belajar bahwa kekuatan sejati tidak berasal dari kenyamanan, tetapi dari kemampuan bangkit setiap kali mengalami kehilangan.

Baca juga :   Ganjar Capres PDIP, Bu Mega Tampar Jokowi, Luhut dan Prabowo

Yang dibangun bukan sekadar figur pemimpin, melainkan institusi. Bukan sekadar ketokohan, tetapi kesinambungan gagasan. Karena itu, ketika seorang ilmuwan gugur, muncul penerusnya. Ketika seorang pemimpin berganti, arah pembangunan tidak ikut kehilangan tujuan. Bahkan ketika fasilitas strategis dihancurkan, pengetahuan yang telah dimiliki tetap hidup dan menjadi dasar untuk membangun kembali.

Resiliensi pada akhirnya bukan sekadar kemampuan bertahan, melainkan kemampuan mengubah krisis menjadi energi pembaruan.

Di sisi lain, perjalanan Iran tentu tidak tanpa persoalan. Inflasi, pengangguran, tekanan ekonomi, hingga berbagai tantangan sosial, termasuk isu hak-hak perempuan, tetap menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Namun, di tengah berbagai keterbatasan itu, terdapat satu tekad yang terus dipelihara: tidak menyerahkan masa depan bangsa sepenuhnya kepada tekanan dari luar.

Baca juga :   Keajaiban dan Potensi Kejahatan Quick Count

Indonesia memiliki sejarah yang berbeda. Kita tidak hidup dalam kepungan embargo atau konflik berkepanjangan seperti Iran. Namun justru karena ruang yang lebih longgar itu, kita sering terlena oleh rasa aman dan membiarkan ketergantungan tumbuh secara perlahan.

Padahal, dunia sedang memasuki era yang penuh ketidakpastian. Persaingan geopolitik, krisis energi, disrupsi teknologi, hingga fragmentasi ekonomi global menuntut setiap bangsa memiliki fondasi yang lebih mandiri.

Karena itu, kemandirian di bidang pangan, energi, teknologi, dan industri strategis tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan. Institusi harus dibangun lebih kuat daripada figur, agar arah bangsa tidak berubah setiap kali kepemimpinan berganti.

Resiliensi harus menjadi budaya, bukan sekadar respons sesaat terhadap krisis. Dan kepemimpinan harus bertumpu pada kesederhanaan, integritas, serta pandangan jauh ke depan.

Baca juga :   Ekonomi Payah, Rakyat Tunggu Taklimat Prabowo

Ketangguhan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh seberapa sedikit ujian yang dihadapinya, melainkan oleh kemampuannya mengubah setiap ujian menjadi kekuatan baru.

Iran menunjukkan bahwa tekanan dapat melahirkan daya lenting apabila ditopang oleh identitas kebangsaan, institusi yang kokoh, dan tekad untuk mandiri. Indonesia tidak perlu meniru seluruh jalan yang ditempuh Iran.

Namun semangat membangun kemandirian, memperkuat institusi, dan menyiapkan bangsa menghadapi dunia yang semakin tidak pasti merupakan pelajaran yang layak direnungkan.

Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai penilaian menyeluruh terhadap sistem politik maupun kebijakan domestik Iran. Pengalaman Iran dipandang sebagai refleksi mengenai ketahanan nasional (national resilience) dalam menghadapi tekanan eksternal. Setiap negara memiliki konteks sejarah, budaya, dan tata kelola yang berbeda sehingga pelajaran yang diambil perlu disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan Indonesia. (*)

Prof. Yudi Latif;
Penulis adalah Ketua Yayasan Dana Darma Pancasila.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *