INDOSatu.co – JAKARTA – Menjelang Muktamar ke-35 NU, suhu persaingan mulai terasa. Guna meredam agar tidak menjadi bola liar, para sesepuh menggelar pertemuan yang didorong oleh rasa prihatin terhadap dinamika yang berkembang menjelang Muktamar Ke-35 NU tersebut.
Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin mengaku tak menampik bahwa pertemuan para kiai sepuh tersebut didorong oleh keprihatinan terhadap dinamika yang berkembang menjelang Muktamar NU.
“Adanya isu-isu mengkhawatirkan karena ditandai cara tidak terpuji untuk upaya-upaya dalam Muktamar yang akan datang,” kata KH Ma’ruf Amin.
KH Ma’ruf menjelaskan, Gedung PBNU dipilih sebagai tempat pertemuan agar seruan moral yang disampaikan para kiai sepuh ditujukan untuk kepentingan NU, bukan kepentingan pihak tertentu.
Karena itu, ia menegaskan Muktamar ke-35 NU jangan dicederai dengan isu-isu, terutama terkait AHWA. “AHWA itu adalah representasi para ulama untuk memilih Rais Aam yang lahir dari hati nurani,” kata Wakil Presiden RI periode 2019-2024 tersebut.
Diketahui, pertemuan tersebut dihadiri secara daring maupun luring oleh sejumlah kiai dan tokoh NU, di antaranya Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin, KH Anwar Manshur, KH Ubab Maimoen, KH Mustofa Bisri, Prof KH Said Aqil Siroj, KH Idris Hamid, KH Kafabihi Mahrus, dan KH Ali Akbar Marbun.
Selain itu, hadir pula KH Muhtadi Dimyati, KH Muadz Thohir, KH Haris Shodaqoh, KH Nuh Addawami, KH Zuhri Zaini, KH Muhibbul Aman Aly, KH Nuruzzahri, KH Muhyiddin Ishaq, KH Abun Bunyamin, dan KH Ahmad Syatibi.
Masih dalam forum yang sama, Rais Syuriah PBNU KH Muhibbul Aman Aly atau Gus Muhib berharap Muktamar ke-35 NU berlangsung dengan cara yang baik, jujur, adil, dan berakhlakul karimah.
Harapan tersebut disampaikan Gus Muhib dalam pertemuan Silaturahmi Kiai-Kiai Sepuh di Lantai 8 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Kamis (20/8).
“Intinya, kita berharap agar Muktamar ini berjalan dengan baik, jujur, adil, dan berakhlakul karimah. karena itu, tindakan tidak terpuji kita usulkan untuk dihentikan, jangan diteruskan, karena itu mencederai NU,” katanya.
Selain itu, Gus Muhib berharap Muktamar ke-35 NU memiliki tata tertib yang mengatur proses pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
“Pemilihan AHWA agar proses itu benar-benar berjalan dengan baik dan terwujud dengan akhlakul karimah,” jelasnya.
Gus Muhib juga menyampaikan bahwa pertemuan tersebut membahas gagasan agar AHWA dapat dilembagakan seperti Majelis Tahkim.
“Jika ada persoalan di tubuh NU seperti yang terjadi kemarin dan kita ketahui bersama, AHWA yang akan menyelesaikannya,” pungkas Gus Muhib. (*)



