Tanda Tanya Besar Hasil Muktamar NU

  • Bagikan

MUKTAMAR NU Ke-35 sudah usai. Ditutup pada 31 Agustus 2026 oleh Presiden Prabowo Subianto. Salah satu hasilnya, KH. Miftachul Akhyar terpilih kembali sebagai Rais Aam PBNU untuk lima tahun ke depan. Beliau diduetkan dengan Ketua Umum PBNU (yang baru) KH. Abdul Hakim Mahfudz, alias Gus Kikin.

Ditutupnya muktamar oleh presiden, dan dipilihnya kembali Yai Miftach sebagai rais aam, itu mengundang tanda tanya besar. Banyak orang penasaran. Bukan hanya di kalangan Nahdliyin. Tetapi, banyak pula orang di luar sana (di luar NU) yang bertanya-tanya. Ada apa ini?…

Kebiasaan selama ini, muktamar NU dibuka oleh presiden. Kemudian, penutupan dilakukan oleh wakil presiden. Muktamar NU Ke-30 tahun 1999 di Lirboyo Kediri dibuka Presiden KH. Abdurrhman Wahid (Gus Dur). Ditutup oleh Wapres Megawati Soekarnoputri, alias Ibu Mega. Muktamar ke-31 tahun 2004 di Boyolali, Jateng dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan ditutup Wapres Jusuf Kalla (JK).

Lalu Muktamar 32 tahun 2010 di Makassar juga dibuka Presiden SBY dan ditutup oleh Rais Aam PB NU KH. Sahal Mahfudz. Muktamar Ke-33 di Tebuireng, Jombang 2015, dan muktamar 34 tahun 2021 di Lampung, juga hanya dibuka oleh Presiden Jokowi, sedangkan yang menutup adalah wapres.

Baca juga :   Fiskal dalam Bahaya, Bisa Tergelincir Setiap Waktu

Mungkin ada yang bertanya: apakah ada yang salah jika presiden membuka dan sekaligus menutup muktamar NU? Menurut saya, tidak ada yang salah. Cuma rodok aneh. Tidak biasa.  Tidak biasa berarti luar biasa. Jare santri: Khoriqul ‘adah. Wong Jowo ngarani: nyulayani adat. Dan, itu bikin penasaran banyak orang. Orang jadi ber-takon-takon (bertanya-tanya): ada apa ya?

Orang-orang yang penasaran itu kemudian mengotak-atik. Yang husnudhon (positive thinking), mungkin berpikir, itu karena saking senangnya presiden terhadap NU. Atau, mungkin, karena kebetulan pada hari-hari itu jadwal kenegaraan Presiden Prabowo sedang agak longgar.  Tidak sedang keluar negeri. Sehingga, beliau bisa menyempatkan  menghadiri muktamar NU di Tambakberas, Jombang itu untuk membukanya, dan juga menutupnya.

Mungkin juga ada yang ngramesi (mengotak-atik), Presiden Prabowo sangat senang terhadap hasil Muktamar NU Ke-35 itu. Karena, yang terpilih untuk menduduki jabatan puncak di PBNU adalah Yai Miftach lagi sebagai rais aam, dan Gus Kikin sebagai ketua umum tanfidziyah PBNU.  Mungkin, ini hanya mungkin lho ya, hasil muktamar itu sesuai  dengan angan-angan (harapan) pak presiden. Mungkin Presiden Prabowo ke depannya akan merasa lebih nyaman nyawang PBNU.

Baca juga :   Untung Hakim Masih Ada

Selain soal kehadiran Presiden Prabowo, hal lain yang banyak dipertanyakan adalah soal terpilihnya kembali Yai Miftach sebagai rais aam. Lolosnya Yai Miftach sebagai anggota Tim AHWA (ahlul halli wal aqdi) saja sudah dianggap aneh. Apalagi, beliau akhirnya terpilih sebagai rais aam.

Menjelang muktamar ke-35 banyak suara di medsos yang tidak menghendaki Yai Miftach terpilih lagi. Mereka juga tidak menginginkan Gus Yahya menjadi ketua umum lagi. Soalnya, dua tokoh NU itu dianggap sebagai aktor utama terjadinya kegaduhan dan perpecahan di PBNU tahun lalu. Slogan mereka ini laa Miftacha walaa Yahya (no Miftach, no Yahya).

Tokoh-tokoh NU yang menyuarakan penolakan terhadap Yai Miftach kecewa terhadap muktamar itu. Antara lain, Dr. KH. Marzuki Mustamar (mantan ketua PWNU Jatim) dan Dr. KH. Musta’in Syafi’i (seorang pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Intinya, keduanya menganggap aneh karena masih banyak kiai sepuh yang mestinya sangat/lebih layak menjadi Tim Ahwa, tetapi justru tidak masuk tim. Dan, yang lebih aneh lagi, Yai Miftach yang punya track record bikin kegaduhan di PBNU tahun lalu, justru terpilih lagi.

Dengan hasil akhir Muktamar 35 seperti itu berarti mereka yang bersikap laa Miftacha walaa Yahya dipaksa menerima keadaan. Mereka hanya berhasil mewujudkan laa Yahya (no Yahya). Tetapi mereka gagal mewujudkan laa Miftacha. Karena Yai Miftach akhirnya tetap berhasil melenggang menduduki kembali kursi Rais Aam PBNU. Mereka cuma berhasil 50 persen dari target.

Baca juga :   King Mikir, King Maker, dan King Makar

Komentar dan sorotan di medsos kebanyakan bernada negatif terhadap hasil muktamar 35. Bukan karena muktamar itu diwarnai adanya sekelompok orang yang ngotot terkait  persyaratan  calon ketua umum. Sempat otot-ototan. Ada keributan. Tetapi, lebih karena mereka menilai banyak keanehan dan kejanggalan. Terutama terkait penentuan tim Ahwa. Ada yang mempertanyakan bagaimana seorang kiai terkenal dan senior, semisal KH. A. Mustofa Bisri, Rembang, namanya tidak masuk dalam Tim Ahwa. Juga beberapa lainnya.

Yai Musta’in, hafidzul qur an dan ahli tafsir sampai menyatakan, kondisi NU saat ini tidak baik-baik saja. ‘’Coba bayangkan, jika umpama Mbah Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Hasbullah, atau Kiai Bisri Sansuri (para pendiri NU) melihat kondisi NU saat ini, apakah beliau-beliau itu ridlo, ataukah menangis?,’’ kata Yai Musta’in kepada jamaahnya. (*)

DR. H. Mundzar Fahman, MM.;
Penulis adalah mantan wartawan Jawa Pos, tinggal di Bojonegoro, Jawa Timur.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *